@Aexylumi
iAccount based inIndonesia
About this account
- Account based in
- Indonesia
- Connected via
- Indonesia Android App
Account-level information from X, not a live location or the device used for a specific post.
Idk what to write here.___ Feel free to ignore my tweet if you think it's not worth reading.
Joined August 2020
- Tweets981
- Following349
- Followers13
- Likes55.1K
Looking at this and the current state of HI3rd part 2 made me think that if Genshin will have a part 2 they should just make it into a new game. They can release old characters in the new game and give them new character development.
The Tsaritsa is a Bronya expy. Not the way HSR Cyrene is Elysia variant or HSR Bronya & Silverwolf is a Bronya variant. But something more closer to how ZZZ Remielle is an Elysia expy despite not having the same VA.
Habis Teori Finlandia terbitlah Teori Degrowth.
Kemarin, Teori Finlandia pada zaman Nadiem berhasil menghancurkan pendidikan Indonesia.
Anak Indo bodoh massal.
Penyebabnya bukan hanya asal copas atau gaji guru. Capaian pendidikan di Finlandia sendiri jatuh di bawah Amerika Serikat yang padahal rasis dan kapitalis.
Bahkan di Amerika sendiri, orang kulit hitam di negara-bagian yang miskin dan rasis diskriminatif seperti Mississippi malah outperform orang kulit hitam di California yang sangat kaya dan dikuasai SJW, murni karena aliran sesat ala Teori Finlandia tidak masuk ke dalam kelas.
Jadi, teorinya sendiri yang memang salah sejak awal.
Teori Finlandia terbukti salah sejak dari konsep.
Padahal, gw masih ingat bagaimana dulu Teori Finlandia begitu disembah oleh orang-orang influencer SJW terkenal, belagu, dan sok tahu yang merasa pintar.
Nah, ketika Teori Finlandia dicombo dengan gaji guru yang sangat memprihatinkan, mampuslah puluhan juta siswa-siswa kita.
Ketika Teori Finlandia akhirnya gagal total dan kebakaran di Indoneaia, orang-orang SJW sotoy belagu ini lalu ngumpet di kamar dan diam 1000 bahasa.
Padahal, ini ga main-main. Masa depan puluhan juta anak kecil di Indonesia hancur dirusak Teori Finlandia.
Darah ada di tangan orang-orang SJW sotoy didikan Barat yang mendorong ajaran sesat ini.
Belum sempat darah ini mengering, tiba-tiba minggu sudah muncul teori asing baru lagi yaitu Teori Degrowth.
Kali ini yang terancam adalah tata ekonomi Indonesia yang sudah sangat babak belur, terutama yang berbau mesin dan teknologi.
Kehancuran sektor manufaktur Jerman sejak mulai menyebarnya virus ideologi degrowth 10 tahun yang lalu membuat gw sangat cemas. "Jir, kalau tren ini sampai masuk dan mewabah di Indonesia, mampuslah kita."
Ini tiap angkatan LPDP yang pulang dari negara Barat bawa virus baru dari laboratorium ideologinya George Soros ya? 1 angkatan 1 virus.
"Indonesia 5-10 tahun di belakang Barat". Bulan cuma perihal culture war, tapi juga kebijakan makro pemerintah seperti Teori Finlandia, kegagalan bencana Teori Finlandia, Teori Degrowth, dan dalam 10-15 tahun lagi, boleh jadi kegagalan bencana Teori Degrowth.
Kuota beasiswa, LPDP, dll ke negara-negara Barat harus segera dipotong dan dialihkan ke negara lain.
Alasannya, negara-negara Barat adalah service economy yang sedang deindustrialisasi.
Kalau kita belajar ajaran sesat degrowth ke Barat, ya kita IKUT deindustrialisasi.
Padahal, baru saja pendidikan Indonesian dihancurkan Teori Finlandia.
Tiba-tiba sudah terbit teori baru yaitu Teori Degrowth, yang mengancam sisa-sisa upaya reindustrialisasi Indonesia yang padahal sudah sekarat dipalaki preman.
Hhhhhh. Haduh.
Padahal, hanya karena teori asing Barat bergengsi, bukan berarti pasti benar atau cocok.
Ibarat sebelum UTBK, kita bukannya belajar bersama anak pintar yang rajin ("industrialisasi"), melainkan malah ikut party-party mabuk mabukan sama nepo baby bodoh ("degrowth").
Dipastikan kita akan gagal UTBK itu.
Nepo baby manja sok tahu ga mungkin ngerti gimana perjuangan bapaknya sampai bisa sukses. Sejak kecil hidupnya udah enak. Dia cuma bisa ngancurin jerih payah bapaknya, kayak di film dracin.
Demikian elite akademia Eropa sekarang juga ga ngerti kenapa bapak-bapaknya bisa sukses bangun pabrik dan ekonomi Eropa jadi negara-negara maju. Mereka sekarang cuma bisa ngehamburin uang bapaknya dan ngancurin pabrik yang ada.
Jangan sampai kita belajar ilmu dari sumber yang salah, sesat, dan keliru.
Atau lebih tepatnya, sumber virus ideologi degrowth ini harus segera disumbat sebelum meluas dan menciptakan kerusakan wabah.
Ini bukan cuma termasuk SJW libtard nepo baby berambut biru, tapi juga ekonom neolib berjas necis didikan Amerika dan Australia yang ga punya visi pembangunan ekonomi lain kecuali diam dan pasif menjilat menyembah kaki Amerika.
Perhatikan, kebijakan ruling elite Barat cetakan universitas-universitas Barat justru menyebabkan daerah-daerah pabrik Amerika menjadi "rust belt" kota-kota mati yang berisi pengangguran massal dilanjut dengan mewabahnya narkoba (malah dilegalkan jir), kriminalitas bersenjata, dan orgil mabuk nyimeng buas berbahaya yang membawa sajam dan kencing dan berak sembarangan di lantai KRL dan bis.
Of all people, lu mau belajar ilmu sesat gagal dari *mereka*?
Bayangkan jadi nepo baby kaya dan malas, jauh-jauh belajar-liburan ke luar negeri, jadi sangat belagu dan sok tahu, terus yang dipelajari ternyata salah dan ngaco dan literally asal jiplak asal copas untuk konteks kebutuhan negara Indonesia kita.
Apalagi, teori-teori sesat asing degrowth mereka malah menyebabkan deindustrialisasi, pengangguran, terlantarnya orang homeless, narkoba suntik, gangster kriminal bersenjata di jalanan kota, dan KRL bau pesing di negara-negara Barat asalnya.
Frasa "sok tahu" di sini adalah penting. Alasan deindustrialisasi Barat secara umum ada dua, yaitu alasan sistemik dan alasan ideologi. Ideologi! Itu dia sumber sok tahu nya. Orang pintar IQ tinggi pun kalau sudah tercuci otak dengan ideologi, habislah sudah.
Sebenarnya, yang sistemik lebih berbahaya. Tetapi alasan ideologis tidak kalah ngaco: misal Jerman merobohkan semua reaktor PLTN nuklirnya yang berfungsi dan menggantinya dengan PLTU batu bara, karena telah mewabahnya suatu ideologi degrowth sesat ekstremis di kalangan aktivis dan kampus dan parpol Jerman.
Betul.
Di Jerman, baru baru ini energi nuklir diganti dengan energi batu bara.
Karena degrowth.
Prosesnya begini: SJW libtard degrowth sok tahu berambut biru menutup dan merobohkan PLTN, kemudian mereka kaget karena "lho kok suplai listriknya jadi sedikit ya", lalu panik karena negaranya akan runtuh, lalu terpaksa menambah kapasitas PLTU batu bara, ini pun masih kurang dan menyebabkan kerusakan ekonomi Jerman yang sesungguhnya literally tidak perlu.
Ketika Jerman yang sibuk degrowth menembak kakinya sendiri dengan bodoh dan otherwise ga ngapa-ngapain, China sibuk melaju pesat, kemudian hari ini perusahaan-perusahaan pabrik Jerman seperti Volkswagen mulai melakukan pemecatan massal karena kalah total dalam kompetisi. Hancur. Musnah. Bangkrut. Jerman mulai gejala pengangguran massal seperti 1930an.
Ideologi degrowth ini sesungguhnya sudah lama berinkubasi dan berkembang biak di tempat-tempat perkumpulan nepo baby tukang party-party di London dan Paris seperti WEF, yang secara insting menganggap populasi manusia kelas bawah sebagai hama tikus mengganggu yang merusak alam dan sehingga tidak masalah apabila dibasmi dalam jumlah milyaran (depopulasi).
Nabi dari ajaran sesat degrowth ini adalah orang bernama Paul Ehrlich, yang pada tahun 1960an membentuk sebuah sekte kiamat modern yang menganjurkan genosida milyaran orang miskin di dunia ketiga untuk "mencegah kiamat".
Dengan dukungan dan pendanaan elite-elite Amerika yang percaya pada ajaran degrowth Ehrlich, India berhasil dijadikan negara diktator totaliter pada tahun 1970an di bawah rezim Partai Congress (The Emergency), lalu literally memulai proses pengebirian jutaan orang di jalanan.
Literally tentara dan polisi dan aparat "kesehatan" turun bawa pisau lalu 8 juta penduduk India diculik dan penisnya dikebiri paksa dengan pisau dari desa ke desa. Banyak yang mati karena penisnya infeksi terus gangren. Tetapi rezim kediktatoran Partai Congress ini berhasil digulingkan dengan cepat oleh rakyat India, sehingga agenda depopulasi degrowth Ehrlich ini gagal.
Untungnya dunia sisanya masih waras, dan Revolusi Hijau via teknologi menyelesaikan semua masalah produksi pangan, hingga hari ini kebanyakan orang miskin mati karena terlalu banyak makan (obesitas). Kelaparan yang tersisa hari ini bukan karena tidak ada makanan yang cukup, melainkan karena konflik atau upaya genosida disengaja, seperti di Gaza.
Meskipun begitu, ajaran sesat degrowth Ehrlich tidak hilang dan terus berinkubasi menjadi virus mutan yang lebih licik. Habis Ehrlich terbitlah Soros.
Mindset kolonial rasis Soros dan kumpulan nepo baby global WEF yang melihat kita sebagai serangga mengganggu semacam inilah yang lalu mendorong berkembang biaknya ideologi degrowth modern dan ormas-ormasnya dan sumber dana-dananya.
George Soros dan anak putra mahkotanya, Alex Soros, sebagai donatur ormas-ormas degrowth itu percaya dengan ideologi degrowth ini. Mereka benar-benar true believer. Ya memang literally percaya.
Apabila mahasiswa Indonesia apalagi anak-anak nepo baby Indo dibiarkan terus belajar ke Barat, jangan-jangan mereka juga akan dikaderisasi dan tertular dan terinfeksi oleh virus ideologi sekte kiamat degrowth elitis Soros yang mengerikan itu. Padahal, masih banyak lagi virus ideologis pendorong degrowth dan deindustrialisasi Barat yang lain, yang tidak kalah ganas.
Tetapi barangkali yang lebih fatal dan bahaya daripada ajaran sesat degrowth adalah fenomena sistemik, misalnya fenomena premanisme litigasi di Amerika yang sangat kapitalis.
Premanisme lawsuit ini bukan didorong alasan ideologis seperti degrowth, meskipun seringkali berbarengan, melainkan alasan sistemik materi yaitu uang.
Di Amerika, premanisme pungli ternyata sangat mewabah, dan umumnya berbentuk premanisme lawsuit dan premanisme lobbying yang ganas merampok yang dan dilancarkan oleh ormas-ormas SJW peliharaan rezim Demokrat.
Skema-skema punglinya sudah sangat kreatif. Mereka sudah jauh lebih canggih dan aesthetic daripada gerombolan preman buas macam GRIB dan FBR di Indonesia. Segala-galanya dirampok.
Proyek infrastruktur seperti kereta cepat di California dimarkup gila-gilaan hingga USD 126 billion, jauh lebih gila dan serakah daripada di Indonesia. Baru-baru ini California digoncang dengan hilang dicurinya dana asuransi daerah sebesar USD 55 billion. Keduanya lebih besar daripada seluruh total korupsi Soeharto (USD 35 billion).
Bandingkan jumlah kereta cepat yang dibangun Amerika (literally 1 petak beton random di tengah kabupaten, lihat gambar 2) vs jumlah kereta cepat yang dibangun China dalam periode waktu yang sama (lihat gambar 3).
Bahkan INDONESIA lebih sukses dari California. Kita ketiban hutang KCIC, tapi keretanya jadi. California ketiban hutang kereta cepat DAN keretanya masih gaada, fiktif.
Tentu saja, para preman lawsuit dan preman lobbying ini tidak ada yang berpikir panjang. Pabrik-pabrik Amerika pun kabur ke Vietnam untuk menghindari pungli, ketidakpastian hukum, dan overregulasi.
Wabah pungli dan korupsi canggih di Amerika ini disebabkan fenomena "elite overproduction" sarjana soshum yang tidak terserap, yang menyebabkan para sarjana pengangguran dan koalisi-koalisi politiknya itu beralih ke premanisme lawsuit untuk merampok sebanyak mungkin uang.
Mereka nganggur sehingga mendirikan ormas (NGO) lalu merampok pabrik. Preman.
Apabila sistem pungli Amerika yang sangat canggih dan sangat rampok ini sampai terbawa masuk seperti virus, menular, dan mewabah di Indonesia, mampuslah kita.
Bayangkan GRIB dan FBR buka loker buat menyerap sarjana lulusan Amerika nganggur ini kemudian mulai memakai teori ras Barat yaitu "pribumi vs pendatang" untuk memalak pabrik.
Bayangkan tiap buka lahan pabrik di Karawang harus upacara land acknowledgement pribumi dulu dengan bayar Rp 20 M buat ritual """"adat"""" ga jelas yang sebenarnya dikarang bebas saja oleh ormas preman lokal (belum tentu etnis pribumi setempat) yang kerjanya hanya mabuk dan nyimeng. Pelembagaan premanisme.
Itu sampai meluas berkembang biak, hancurlah mimpi industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja kita untuk selamanya. Padahal, masih banyak tipe preman lain selain preman lawsuit di Amerika, yang tidak kalah canggih dan tidak kalah rampok.
Di Eropa, wabah sistemik yang paling mewabah adalah wabah overregulasi birokratis yang menjadikan iklim bisnis terasa seperti combat warzone. Ketidakpastian regulasi, biaya tak perlu sangat besar, dan labirin perizinan merajalela.
Memang, secara moral, praktik Eropa ini tidak sebejat premanisme lawsuit ormas-ormas NGO Amerika yang murni hanya serakah merampok dan memalak untuk alasan buas kapitalis.
Tetapi, overregulasi birokrasi Eropa sama sekali tidak boleh diremehkan dalam kapasitasnya untuk mencekik mati inovasi dan industri lalu menyebabkan brain drain, capital flight, welfare time bomb, pengangguran massal, dan mewabahnya politik kanan ekstrem rasis neofasis di kalangan orang-orang yang dimiskinkan ajaran sesat ini.
Betul, hari ini basis pemilih partai-partai kanan ekstrem rasis Barat didominasi orang miskin kelas bawah pengangguran yang dirugikan wabah premanisme dan deindustrialisasi degrowth ini, sehingga tertipu oleh demagog fasis yang menjanjikan jalan pintas dan kambing hitam.
Trump menang besar di daerah rust belt. Orang miskin pengangguran kelas bawah berbondong-bondong meninggalkan Demokrat.
Indonesia sendiri punya trauma pengalaman sangat pahit karena FOMO ikut-ikutan ajaran sesat Barat, yaitu deindustrialisasi pasca kedatangan IMF tahun 1998.
Model "IMF adalah konspirasi jahat yang ingin merusak Indonesia" adalah model yang tidak akurat dan buruk. Yang terjadi sebenarnya boleh jadi lebih buruk. IMF betulan percaya dengan obat palsunya sendiri (Washington Consensus), dan elite ekonom kita juga main percaya-percaya aja dengan ajaran dengan ajaran sesat mereka.
Akibat ajaran sesat IMF ini, deindustrialisasi ekstrem melanda Indonesia pasca 1998.
Ideologi asing sesat yang merobohkan PLTN Jerman, hal sistemik asing sesat yang mencekik pembangunan infrastruktur California, teori asing sesat yang merobohkan industri pesawat IPTN Indonesia tanpa pengganti yang sukses, ketiga ini akhirnya sama saja.
Buat apa kita buang uang beasiswa LPDP mengirim calon tunas bangsa kita untuk naik kapal SJW degrowth dan deindustrialisasi Barat Australia, Inggris, Jerman, East Coast, dan California yang semakin tenggelam?
Bayangkan kalau kita kirim LPDP ke China instead. Bayangkan, akan ada 10.000 orang elite human capital soshum yang membawa pulang pengetahuan kebijakan industri China: inovasi pendanaan infrastruktur dan layanan pemerintah, reformasi birokrasi pemda dan pemdes, analisis supply chain dan pasar ekspor, penciptaan human capital industri, dan pembasmian preman dan pungli. Pasti majulah negeri ini.
Makanya, sebelum terlambat, stop deh. Mending kita kirim anak-anak LPDP dan penerima beasiswa lainnya ke industrial economy yang kampus-kampunya mengajarkan ilmu industrialisasi karena masih merasa butuh, seperti Taiwan, Jepang, China, atau Korea.
Menurut penelitian DARPA dkk, separuh riset social science di Barat adalah ngarang dan sesat.
Akar kegagalan teori-teori aliran degrowth Barat itu adalah murni di bahwa risetnya kerap asal-asalan dan penuh data fiktif yang dikarang bebas.
Penyebabnya combo maut antara:
1. Sistem insentif "publish or perish" bikinan Zionis Elsevier,
2. Herd mentality karena cancel culture ideologis yang mematikan skeptisisme dan diskusi, dan
3. Ke-tidak-eksakan ilmu soshum yang tidak dikawal oleh skeptisisme kritis dan sehat.
Akibatnya, riset soshum:
- Sulit diperiksa secara eksak dan matematis seperti riset STEM (karena ya memang sifatnya, wajar lah ya),
- Tetapi malah mustahil diperiksa dan dinilai secara humanis dan empatik, karena manusia yang memeriksanya diteror dengan cancel culture ideologis yang anti diskusi dan anti kebenaran ilmiah.
Artinya kita bisa memprediksi seberapa ngarang suatu bidang studi dari seberapa ekstrem budaya cancel culture ideologis yang ada di fakultas itu. Semakin gemar menyensor, semakin ngarang.
Artinya juga, di tempat penuh sensor seperti itu, tidak ada konsekuensi apabila kamu, sebagai periset, ngarang bebas.
Sistem sensor ini segera dibajak oleh penipu psikopat yang gemar mengarang bebas data di Excel atau malah tidak pakai data dan metode sama sekali. Baru-baru ini misalnya penipu seperti Dan Ariely, Fransesca Gino, dan Jason Arday.
Modelan penipu sociopath tanpa malu seperti inilah yang lalu menggerakkan cancel culture woke sebagai alat untuk membungkam semua kritik, kemudian merebut kekuasaan di administrasi kampus-kampus Barat dan dana-dana uang cashnya yang raksasa.
Model perebutan kekuasaan kampus via alat ideologi ektremis ini sebenarnya sudah pernah dikembangkan sebelumnya secara intens, yaitu pada masa Teror Revolusi Kebudayaan di China selama 1966-1967, yaitu ketika dosen dan profesor dan guru yang kukuh berpegang pada kebenaran ilmiah dicancel, dipermalukan, disiksa, syahid dibunuh, bahkan dimakan oleh mahasiswa dan pelajar yang tercuci otak oleh radikalisme ideologi.
China baru berhasil mencoba pulih lagi dari fase puncak Teror Revolusi Kebudayaan itu setelah Mao Zedong menurunkan tentara komunis pada 1968 untuk menangkap massal 17 juta orang mahasiswa dan pelajar komunis radikal dan mengirim mereka ke desa-desa kabupaten untuk disuruh jadi petani transmigran. Sungguh bencana yang sangat tidak perlu.
DARPA sendiri adalah badan riset militer nasional Amerika yang mengampu sebagian besar proyek senjata militer rahasia atau tingkat tinggi Amerika, termasuk menciptakan internet pada 1960an (ARPANET) dan menciptakan GPS.
DARPA khawatir dengan tren "Neo-Maois" deintelektualisasi, deprofesionalisasi, dan sensor ideologis diskusi di fakultas-fakultas soshum di Amerika, dan menganggap ini sebagai ancaman nasional serius terhadap kepakaran negara Amerika di bidang soshum, sehingga melakukan investigasi yang hasilnya dipublish pada April 2026. Ternyata betul, rusaknya sudah parah. Kualitas riset soshum sangat buruk dan ngasal.
Banyak orang LPDP dan nepo baby yang merantau ke Barat akhirnya hanya menelan bulat-bulat saja semua ajaran sesat degrowth yang beredar di kampus-kampus yang sudah rusak tercemar ideologi dan budaya degrowth cancel culture keliru ini, tanpa diproses.
Ketika kembali ke Indonesia, seringkali mereka langsung sok tahu asal jiplak asal copy paste, tanpa liat tempat.
Rakyat miskin "kaum 58% IQ rendah" yang tidak paham ideologi Barat dianggap sebagai kelas rendah yang rasis, seksis, bodoh dan primitif. Padahal, sebenarnya keduanya tidak beda jauh, hanya beda baju saja.
Kemudian, sesuai prediksi, sistem asal jiplak ini akhirnya gagal total. Misal, Teori Finlandia ternyata gagal total di pendidikan Indonesia dan menyebabkan robohnya kualitas pendidikan secara mengejutkan.
Ekonomi industri Jerman hancur luluh lantak setelah mengakarnya ideologi degrowth sejak 2017-an.
Akibatnya pengangguran massal.
Ratusan ribu buruh pabrik dipecat. Misal di VW, 100.000 orang dipecat massal. Karena degrowth.
Yang ngancurin tidak hanya efek langsung, tapi juga efek tidak langsung yaitu opportunity cost.
Otak policymaker Jerman sama sekali tidak sempat memikirkan bagaimana bersaing dengan China.
Sebaliknya, otaknya dipakai untuk menjalankan ideologi degrowth, yaitu bagaimana menciptakan sebanyak mungkin overbirokrasi dan overregulasi sangat mencekik dan merusak tanpa alasan lain selain degrowth.
Finished HI3rd part 2.
I'm sorry Sena but your daughter is too cute, I have to pull her.
Also who tf had the idea to make goddess Senadina an Astral Op?
Jujur....
Gw mulai curiga sama yang buat film pesta babi akibat ini
Udah berapa kali opm bunuh orang asli papua selalu dibelain
Aexylum 777 retweeted
Unpopular opinion:
Pemerintah Saudi tidak melindungi Mekah dan Madinah.
Justru Mekah dan Madinah yang melindungi Pemerintah Saudi
Aexylum 777 retweeted
Achieve automaticity on foundational skills to free up mental resources for higher-level creative thinking.
The anti-memorization movement has left millions of students unable to think because every elementary operation consumes working memory.
For instance, solving equations feels smooth when basic arithmetic is automatic. It's like moving puzzle pieces around, and you just need to identify how they fit together.
But without automaticity on basic arithmetic, each puzzle piece is a heavy weight. You struggle to move them at all, much less figure out where they're supposed to go.
It’s the same all the way up the ladder of math: from arithmetic, to algebra, to calculus, to all sorts of university-level math and beyond.
Aexylum 777 retweeted
Replying to @bukibread
This reminds me of something. It could just be the lighting but Denia's hair is shown as originally white. Meanwhile Rover and 'godess Lucia' hair colour is black (If we ignore that she is shining here). We know that Aemeath traveled to the past via voidspace.
1) Belyi Tsar's Court Jester -> Hyperborean
2) Tsaritsa's 'The Jester' -> Khaenrian
Both Snezhnayan jesters have connection to a fallen civilization.
I was a bit🤨 when I read other people comments about the world quests. But seeing this here...
Koschei the Deathless...
Koschei...
Koschei...
Kashchey...
Did they pull him from the same myth as Arknights or something?
Or is it just the meaning of the name?
Aexylum 777 retweeted
I really recommend everyone read those slides to see the absurd logic localizers have
These were presented as "good" localization and they used this to educate other game devs. If we don't speak up it'll all be like this soon.
#CEDEC2026 English Lecture Slides Now Available
CEDEC, a game developer conference in Japan, featured a lecture on Umamusume: Pretty Derby's English localization this year, complete with an English version of the slides.
🔗speakerdeck.com/cygames
Take a look✨