@Ari_Ak2i
iAccount based inIndonesia!
About this account
- Account based in
- Indonesia
- Connected via
- Indonesia Android App
! X says this location may be affected by a proxy or VPN.
Account-level information from X, not a live location or the device used for a specific post.
Perang Hari ke-215: Trump Isyaratkan Serang Iran, Diplomasi Makin Tegang
Perang Iran dan Amerika Serikat memasuki hari ke-215 dengan ketegangan yang kembali meningkat.
Donald Trump membuka opsi untuk kembali menyerang Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Di sisi lain, Iran menyatakan telah menerima respons terbaru dari Washington terkait proposal gencatan senjata. Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan tersebut.
Situasi di Hormuz juga masih berisiko setelah tiga kapal tanker minyak berbendera Liberia dilaporkan terkena proyektil.
Sumber dan jenis proyektil tersebut masih belum diketahui.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Faksi Pro-Iran Rayakan AS Tarik Pasukan dari Irak, Kirkuk Gelar Parade Militer
Sejumlah pendukung Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF), payung kelompok bersenjata yang pro-pemerintahan Iran, menggelar perayaan di Baghdad setelah pasukan Amerika Serikat ditarik dari Irak.
Penarikan tersebut dilakukan setelah pasukan AS resmi mengakhiri misi selama 12 tahun untuk memerangi kelompok Negara Islam (ISIS) dan menetap di pangkalan udara di Irak utara.
Sementara itu di Kirkuk, pasukan keamanan Irak termasuk simpatisan PMF juga menggelar parade militer setelah AS menyelesaikan penarikan pasukannya dari pangkalan terakhir di Irak utara.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Trump Ancam Iran Lagi: Mungkin Kita Ledakkan Mereka
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara terbarunya di Gedung Putih melontarkan ancaman terhadap orang-orang di tubuh pemerintahan Iran yang menurut wartawan pernah Trump sebut "gila".
Pada Rabu (30/9/2026) Trump mengatakan Washington kini memiliki pilihan untuk menyerang Iran terutama orang-orang yang disinggung itu, atau mencapai kesepakatan, dan keputusan tersebut akan segera dibuat.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga membahas penangkapan sejumlah orang yang disebut ingin meledakkan pangkalan RAF Fairford di Inggris. Seperti apa komentaranya?
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Iran Siap Perang Sampai Kiamat Apabila Trump Tolak Rencana Damai Teheran
Iran menyatakan tetap membuka pintu diplomasi dengan Amerika Serikat. Namun, di saat yang sama, Teheran menegaskan siap menghadapi perang jika konflik kembali berlanjut.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan NBC, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal tujuh hari yang diajukan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Araghchi mengatakan Iran siap menghadapi segala bentuk agresi, bahkan jika konflik tersebut berkembang menjadi apa yang ia sebut sebagai perang kiamat.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Beda "Deadline" Baru Iran Vs AS: 7 Hari Ultimatum Melawan Niat Serangan November, Trump Bisa Gagal?
Iran mengajukan rencana tujuh hari untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Dalam proposal tersebut, Teheran mensyaratkan penghentian pertempuran, pencabutan blokade laut Amerika Serikat, penghentian sanksi minyak, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan. Setelah syarat tersebut dipenuhi, Iran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali pada hari ketujuh dan perundingan mengenai program nuklir dilanjutkan.
Namun, Presiden AS Donald Trump menolak proposal tersebut. Di saat yang sama, Wall Street Journal melaporkan berdasarkan keterangan sejumlah pejabat AS bahwa Trump telah menyampaikan kepada para pembantunya kemungkinan berlanjutnya kampanye pemboman terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu November.
Lantas, seberapa siap Iran dan Amerika Serikat menghadapi perang jika diplomasi kembali gagal?
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Arab Saudi Mau Bikin Senjata Nuklir, Laporan Rahasia Intel AS Bocor!
Arab Saudi diam-diam masih berambisi untuk mengembangkan senjata nuklir. Kabar ini terungkap dari bocornya laporan intelijen Amerika Serikat yang dibeberkan Kongres AS.
Bocornya info rahasia itu terjadi di tengah peninjauan kesepakatan kerja sama energi nuklir sipil selama 30 tahun antara Washington dan Riyadh.
Kesepakatan nuklir AS dan Arab Saudi yang dirancang Presiden Donald Trump itu mencakup izin pengayaan uranium hingga mendekati 20 persen. Selain itu, Trump juga akan memberikan peran utama pada perusahaan AS dalam pembangunan infrastruktur nuklir Arab Saudi.
Rencana ini memicu kekhawatiran sejumlah legislator terkait standar non-proliferasi dan potensi perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
AS Beri Sinyal Serangan Terbaru, Kenapa Disebut Iran Lebih Siap Perang Habis-Habisan?
Sinyal gempuran baru dari Donald Trump pasca-Pemilu Paruh Waktu AS bukannya bikin Teheran gentar, tapi justru memicu gertakan "perang kiamat".
Mengusung taktik serang mendahului ala "memotong rumput", Iran nekat menaikkan eskalasi demi satu misi utama: membuat ongkos bertahan Paman Sam terlalu mahal hingga terpaksa angkat kaki secara permanen dari Teluk.
Langkah nekat Teheran di bawah komando garis keras Mojtaba Khamenei ini memanfaatkan celah politik Washington yang sedang goyah oleh isu domestik. Dipadu trauma diplomasi masa lalu dan kesadaran bahwa "kartu truf" penutupan Selat Hormuz punya batas waktu, Iran memilih menekan pedal gas serangan setinggi-tingginya sekarang juga demi mengunci status sebagai penguasa kawasan.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
"Mudah" Dijebol Rudal Iran, Kenapa AS Pilih Pindah ke Yordania usai Angkat Kaki dari Irak?
Keputusan Amerika Serikat menarik diri dari Irak setelah dua dekade bertujuan untuk mengakhiri misi perang koalisi dan menyerahkan kendali keamanan penuh kepada pemerintah Irak, sekaligus menggeser fokus operasi kontra-ISIS mereka ke Yordania yang dinilai lebih strategis untuk menjangkau wilayah Suriah.
Kendati Yordania dipilih karena posisinya yang relatif terpisah dari titik konflik utama, wilayah ini nyatanya tak sepenuhnya aman dari jangkauan rudal dan drone Iran, namun AS tetap memilih relokasi ini demi fleksibilitas posisi militer mereka di kawasan Teluk.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
5 Proksi Iran di Irak "Menang" Lawan AS, Klaim Paksa Washington Angkat Kaki
Penarikan pasukan Amerika Serikat dari Irak setelah lebih dari dua dekade menandai berakhirnya misi militer AS di negara tersebut.
Namun, keluarnya pasukan AS tidak serta-merta mengakhiri pengaruh Iran di Irak.
Lima kelompok yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, yakni Kataib Hezbollah, Asaib Ahl al-Haq, Harakat Hezbollah al-Nujaba, Badr Organization, dan Kataib Sayyid al-Shuhada, masih memiliki jaringan politik, militer, dan keamanan dengan tingkat keterikatan terhadap Iran yang berbeda-beda.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
"Ilusi" AS Pelindung Teluk: Mitos THAAD Diruntuhkan Rudal-Drone Iran, Sekutu Arab Cari Jalan Lain
Konflik berkepanjangan dengan Iran telah menyingkap keterbatasan sistem pertahanan rudal THAAD andalan Amerika Serikat yang ternyata dirancang untuk pertempuran singkat, sehingga persediaan interseptor menipis drastis dan membatasi opsi militer Washington. Situasi ini memaksa Amerika Serikat menghadapi krisis logistik persenjataan yang turut menguras stok untuk kawasan lain, hingga mendorong terciptanya opsi diplomasi di tengah kebuntuan strategi jangka panjang.
Dampak dari perang tersebut juga merusak kepercayaan negara-negara Teluk terhadap jaminan keamanan Washington yang mengambil keputusan sepihak tanpa konsultasi. Sebagai respons atas rapuhnya perisai pertahanan dan kerentanan kawasan, negara-negara Teluk kini mulai mengubah kalkulasi geopolitik mereka dengan merangkul mitra alternatif seperti Trkiye sekaligus membuka jalur dialog langsung dengan Iran demi menjaga stabilitas kawasan.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Petaka Iran Buka Peta Perang Baru Jika AS Lakukan Serangan, Houthi Menunggu dalam Mode Rudal "Baru"
Ancaman perang Iran dan Amerika Serikat kembali mengarah ke kemungkinan terbukanya front baru di luar Selat Hormuz.
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Yahya Rahim Safavi menyebut perluasan ke Selat Bab el-Mandeb dapat mengubah peta jalannya perang, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran siap menghadapi kemungkinan konflik kembali pecah.
Di Yaman, Houthi menjadi bagian penting dalam perhitungan tersebut karena memiliki pengaruh di kawasan Bab al-Mandab serta arsenal rudal yang terus berkembang.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Teror "Tangan Besi" Houthi: Seberapa Berbahaya Senjata Warisan Iran?
Serangan rudal balistik kelompok Houthi menghantam pangkalan militer Divisi 1 Pasukan Perisai Nasional Yaman di Khor Amira, Provinsi Lahj, pada akhir September 2026, mengakibatkan korban jiwa serta luka-luka di kalangan tentara. Insiden ini memperluas rangkaian serangan Houthi yang sebelumnya telah menyasar berbagai wilayah di Arab Saudi, jalur perairan strategis Selat Bab el-Mandeb, hingga memicu tuduhan bahwa mereka memodifikasi komponen senjata pertahanan udara bantuan Iran menjadi rudal jelajah berpemandu termal.
Meskipun bukti konklusif masih diteliti, kemampuan Houthi dalam merakit dan mengembangkan berbagai persenjataan canggih. Mulai dari rudal balistik warisan lama hingga varian mutakhir seperti Toufan dan Palestine-2 telah mengubah kalkulasi keamanan kawasan. Eskalasi ini memicu kekhawatiran serius bahwa keselamatan wilayah udara dan alur pelayaran di Laut Merah kian terancam oleh dominasi kelompok non-negara yang semakin mandiri secara militer.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Iran Panas UEA "Sekongkol" dengan Netanyahu: Teheran Ancam Abu Dhabi, Siap Tembakkan Rudal
Hubungan Iran dan Uni Emirat Arab menjadi sorotan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkunjung ke Abu Dhabi dan bertemu Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan pada Minggu (27/9/2026).
Dikutip dari Mehr News, Iran mengecam kunjungan tersebut dan memperingatkan UEA terkait kehadiran Israel di kawasan. Teheran juga menegaskan kemampuan rudalnya di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Di sisi lain, Iran terus memperkuat hubungan dengan China melalui kerja sama ekonomi, teknologi, energi, hingga kemitraan strategis jangka panjang.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
AS Angkat Kaki dari Irak, Dua Proksi Iran Siap Uji Kekuatan Daya Tahan Aliansi Arab
Penarikan resmi pasukan terakhir Amerika Serikat dari Irak pada 30 September 2026 setelah dua dekade invasi menandai babak baru yang dimanfaatkan oleh Iran untuk memperkuat pengaruh regionalnya. Kendati pemerintah Irak menjadwalkan pelucutan senjata bagi kelompok milisi paling lambat pertengahan 2027, sebagian besar faksi pro-Iran menolak patuh, meninggalkan kekosongan keamanan tanpa penyeimbang militer asing yang sekaligus menguji ketahanan aliansi Arab.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman semakin menunjukkan kemandirian tempur melalui modifikasi senjata berbekal komponen asal Iran hingga mampu mengancam stabilitas wilayah Laut Merah. Menghadapi situasi yang kian rentan ini, negara-negara Teluk mulai mengurangi ketergantungan keamanan mutlak pada Washington dengan memperkuat pertahanan mandiri, merangkul mitra baru, serta menyerukan dialog kolektif regional guna meredam eskalasi konflik yang berpotensi membuka front baru.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Kapolri Suyudi Ario Seto Teringat Sosok Hoegeng, Sang Jenderal yang Lantang Tolak Suap dan Tekanan
Nama Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso kembali menjadi sorotan setelah calon Kapolri Komjen Suyudi Ario Seto menyebut spirit Hoegeng sebagai kompas moral Polri dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI, Kamis (1/10/2026).
Hoegeng dikenal sebagai salah satu sosok penting dalam sejarah Kepolisian Indonesia yang lekat dengan citra kejujuran, kesederhanaan, dan integritas.
Semasa bertugas, ia disebut pernah menolak rumah dan mobil dari cukong judi serta terus menghindari konflik kepentingan.
Lalu, siapa sebenarnya Hoegeng dan mengapa namanya masih disebut puluhan tahun setelah tidak lagi menjabat?
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Berawal dari Perang Lawan Irak pada 1980-an, Kenapa Iran Pilih Rudal sebagai Senjata Andalan?
Kemampuan rudal menjadi senjata andalan Iran di dalam setiap konflik, terutama dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel sejak awal tahun 2026.
Namun, kemampuan Iran ini mulai berkembang sejak perang Irak pada tahun 1980-an karena Iran merasa gagal membalas serangan-serangan musuhnya.
Kini, perkembangan kemampuan rudal Iran semakin terlihat dari banyaknya jenis dan fasilitas pendukungnya. Iran bahkan dikenal memiliki kota rudal di bawah tanah.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Iran Surati Warga AS Ajak Gulingkan Trump di Pemilu Sela
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) kirimkan surat terbuka sepanjang 25 halaman, yang ditujukan kepada rakyat Amerika Serikat, yang menyerukan ajakan untuk melengserkan Presiden Donald Trump.
Dilansir dari New York Post, Selasa (29/9/2026), Juru Bicara IRGC Hossein Mohebbi menyerukan agar warga AS melawan kebijakan Trump, dengan cara melemahkan dominasi partai pengusung Trump pada pemilu sela pada 3 November 2026 mendatang.
Mohebbi menyebut, Trump sebagai pemimpin yang dinilai sering berbohong, memanipulasi fakta, dan terus berupaya menumpuk kekayaan.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
MK Diminta Panggil Gibran dalam Sidang Pembuktian Syarat Pendidikan Cawapres
Mahkamah Konstitusi RI diminta memanggil Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk memberikan keterangan dalam sidang pembuktian perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 terkait sengketa syarat pencalonannya pada Pemilihan Umum 2024.
Kuasa hukum para pemohon, Bambang Widjojanto, menyampaikan permintaan tersebut dalam sidang Rabu, 30 September 2026, setelah surat permohonan diajukan kepada Ketua Mahkamah Konstitusi pada 28 September 2026.
Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Saldi Isra menyatakan surat sudah diterima, tetapi permintaan pemanggilan belum diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim.
Selengkapnya dalam video berikut!
Perang Hari ke-214: IRGC Siap Tembak Banyak Rudal, Rial Anjlok, Trump Bantah Beri Keringanan Sanksi
Memasuki perang hari ke-214, mata uang Iran jatuh ke titik terendah baru, Selasa (29/9/2026). Para pedagang di Teheran menukarkan lebih dari 2,5 juta rial untuk 1 dollar AS. Hal itu merupakan cerminan nyata bagaimana perang AS-Israel secara bertahap mengikis perekonomian Iran.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump membantah laporan dirinya menawarkan keringanan sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membagikan informasi intelijen baru mengenai program nuklir Iran kepada Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan dalam pertemuan di UEA, Minggu (27/9/2026). Seorang sumber Israel yang mengetahui pertemuan itu mengatakan Netanyahu menunjukkan laporan intelijen Israel yang mengindikasikan Iran kembali melanjutkan pengembangan program nuklirnya.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
IRGC: Kapal Perang AS Mundur 500 Km dari Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim kapal perang AS mundur 500 kilometer dari Selat Hormuz dan Teluk Persia. Dilansir dari Tasnim News Agency, klaim itu disampaikan Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi Selasa (29/9/2026).
Mohebbi mengatakan sebelum perang AS-Israel terhadap Iran, ada sekitar 30 hingga 40 kapal perang AS di Teluk Persia. Namun, ia menyebut saat ini tidak ada kapal perang AS yang tersisa di kawasan tersebut.
Jubir militer Iran itu juga mengatakan tidak ada kapal kecil AS dari Armada Kelima, yang berbasis di Bahrain, di Teluk Persia.
Simak selengkapnya dalam video berikut!