Lagi break syuting, dapet cerita kalau anak art yang lagi set di lokasi selanjutnya pada panik gara-gara tidur disitu digangguin "penghuninya",
- di lempar batu
- kaki ditarik
- diketawain
Duh, mana set itu buat sekuen horor :(
Day 1 #RumahTerakhirKita
@leopictures1 bismillah!
Dimana Rumah Terakhir yang kamu impikan?
Padahal macet, banyak motor knalpot brong, beberapa titik banjir, tapi selalu kangen sama bandung dan dinginnya
Rasakan sensasinya di bioskop yaa
---
Selamat menyaksikan film SIHIR TANAH KUBUR yang sekarang sudah tayang, selamat menyelami ke-magis-an ritual kebo ireng!
Ajak orang terkasih nonton yaaah :)
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya RITUAL Kebo Ireng bisa hadir di layar lebar lewat Sihir Tanah Kubur. Sesuatu yang awalnya hanya hidup sebagai rasa kagum di kepala gue, kini bisa ikut dilihat dan dirasakan oleh penonton.
Jadi, Kebo Ireng bukan Kebo-keboan. Bukan pula rekonstruksi atau versi gelap dari ritual tersebut. Kebo-keboan tetap menjadi budaya yang hidup dan dijaga masyarakatnya.
Sedangkan Kebo Ireng adalah cara kami menerjemahkan rasa kagum itu ke dalam sebuah film horor.
Proses penciptaan Ritual dibantu oleh para praktisi, mulai dari mantra, musik, properti, gerakan, simbol, hingga rangkaian ritualnya, semuanya dirancang dari awal agar Kebo Ireng punya energi dan logika magisnya sendiri. Bukan sekadar tempelan visual.
Akhirnya, kami memilih untuk gak mindahin Kebo-keboan ke dalam film.
Kami membuat ritual baru bernama Kebo Ireng. Ritual fiktif yang lahir khusus untuk film Sihir Tanah Kubur namun melibatkan para praktisi supranatural dalam penciptaan ritualnya
Karena itu, gue kepikiran buat bawain kesan magisnya ritual ke dalam layar. Menyampaikan perasaan yang sama saat gue lihat ritual kebo-keboan itu sendiri.
Lantas, bagaimana menghadirkan perasaan itu tanpa mengusik budaya aslinya?
Tapi Kebo-keboan bukan sekadar visual yang bisa gue ambil begitu aja. Ia adalah budaya yang hidup, punya sejarah, doa, dan masyarakat yang menjaganya.
Gue gak mau pake ritual yang message-nya baik, cuma buat kebutuhan film horor. maka --
Sebagai kreator, tentu gue langsung membayangkan bagaimana kemagisan Kebo-keboan bisa hadir di layar lebar.
Gue ingin penonton ikut merasakan energi yang gue rasakan saat melihatnya. Bukan cuma lewat visual, tapi juga suara, gerak, dan suasananya.
Kebo-keboan kutangkap sebagai ritual magis yang menyelaraskan hubungan antara manusia dengan para ruh leluhur dan entitas penjaga desa. Sebuah bentuk penghargaan sebagai sesama makhluk yang hidup beriringan
Mantra dirapalkan, dan gerakan kebo-keboan mulai berubah ganas, seolah dirasuki. Ritual pun ditutup dengan penyemaian benih padi, dan penyadaran para kebo oleh pawang.
Ya, konon mereka tidak hanya berpakaian menyerupai kerbau, dibeberapa momen, mereka juga dirasuki oleh entitas
Tradisi ini dibuka dengan khidmat, mulai dari doa-doa, sesajen, dan arak-arakan keliling desa. Barulah setelah itu, kebo-keboan turun ke lumpur dan membajak sawah.
Ada pawang, Dewi Sri, arak-arakan mengelilingi desa, lumpur, alat bajak, hingga benih padi yang disemai. Semuanya saling terhubung.










