Belasan tahun setelah meninggalkan Jogja, saya baru sadar bahwa yang paling saya rindukan dari sebuah kota sering kali bukan tempatnya, melainkan kenangan yang pernah hidup di dalamnya.
Tadi siang, di Duta Minang Jakal, saya mengalami momen itu.
Saya bertemu kembali dengan Om Pieter, yang kini berusia 71 tahun. Bagi banyak orang yang sering melintas di kawasan Jakal, beliau mungkin bukan sosok asing. Selama bertahun-tahun, Om Pieter hadir dengan gitar dan harmonikanya, memainkan lagu-lagu Beatles yang telah menjadi bagian dari identitasnya.
Belasan tahun lalu saya sering mendengarnya memainkan lagu-lagu itu. Saat itu saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari, bunyi harmonika dan petikan gitar tersebut akan menjadi salah satu suara yang paling kuat mengingatkan saya pada Jogja.
Waktu telah berjalan jauh. Banyak tempat berubah, banyak orang datang dan pergi. Namun ada hal-hal tertentu yang tetap bertahan, seolah menjadi jangkar bagi kenangan. Bagi saya, Om Pieter adalah salah satunya.
Kami berbincang sejenak tentang waktu yang telah berlalu. Tentang Jogja yang terus bergerak maju, tetapi masih menyimpan jejak-jejak masa lalu bagi mereka yang pernah hidup di dalamnya.
Lalu beliau bertanya, “Kamu masih suka dengar Obladi Oblada?”
Saya menjawab, “Masih.”
Tak lama kemudian, beliau memainkan lagu itu lagi dengan gitar dan harmonikanya.
Di saat itulah saya merasa bahwa yang sedang saya dengarkan bukan sekadar sebuah lagu. Yang hadir adalah kenangan tentang sebuah kota, tentang masa muda, tentang hari-hari yang telah lama lewat namun ternyata tidak pernah benar-benar pergi.
Ketika nada-nada itu mengalun, saya seperti melihat kembali Jogja yang saya kenal belasan tahun lalu. Bukan Jogja yang ada di peta, melainkan Jogja yang hidup dalam ingatan, yaitu jalan-jalan yang akrab, wajah-wajah yang pernah dekat, dan versi diri saya yang pernah tumbuh di sana.
Mungkin itulah yang disebut pulang. Bukan kembali ke sebuah tempat, melainkan dipertemukan kembali dengan kenangan yang selama ini diam menunggu. Dan siang itu, lewat gitar dan harmonika Om Pieter, saya merasa Jogja menyapa saya sekali lagi.
Bima retweeted
Lady Justice ditutup matanya agar keadilan tidak dipengaruhi oleh simpati. Barangkali kita perlu belajar untuk tidak membiarkan rasa iba mengaburkan penilaian.
Bima retweeted
2015 lalu nenek Asyani sujud² depan hakim memohon untuk dibebaskan karena dituduh mencuri 7 batang kayu jati milik perhutani, gada tuh termul² itu yang nangis dan merasa sakit hati..
Lha ini, jokowi ngambil ijazah dilantai ditangisi, norak kalian mul termul!
Ini susah sih Oki Rengga untuk membela diri, bahkan untuk klarifikasi dan minta maaf. Saya berharap teman-temannya juga mau mengkritik Oki secara terbuka di media sosial, bukan cuma melabeli buzzer ke yang mengkritik Oki.
Mengunggah banyak foto bersama jenderal justru bisa menunjukkan borrowed prestige, yaitu meminjam prestise orang lain karena tidak punya cukup signifikansi untuk ditampilkan dari dirinya sendiri. Singkatnya, sibuk memamerkan siapa yang dikenal, bukan apa yang bisa dibanggakan.
Siapa yang tidak terenyuh melihat adegan ini? 😢
Ini salah satu contoh pelanggaran HAM yang harusnya bikin terenyuh dibanding Pak Jokowi yang membungkuk mengambil map. Sayangnya tak dibahas ramai sama seperti kasus Sukoharjo.
Bima retweeted
Sedih ada y jongkok ambil ijazah?
Marah lihat spanduk anti Karhutla d stadion bola?
Marah presiden dsadap anak buahnya sendiri?
Kok bisa,
Kalian malah abai & anggap korban bencana hanya statistika?
Renungkan, jgn2 prilaku kitalah y melahirkan mereka
Angkat 3 jarimu!
Bersatu
Melawan
Menang
Kakak ini membela kemewahan keluarga Jokowi dengan dalih rakyat biasa juga mampu membeli berlian dan Hermes adalah bentuk gagal paham soal substansi kritik. Publik sedang mempertanyakan transparansi dan kewajaran, bukan merek barang-barang mewah istri pejabat. UU 28/1999 menjunjung akuntabilitas.
Ironis sih, ketika argumen tak mampu menjawab persoalan, yang dipamerkan justru daftar belanja. Ternyata kemampuan membeli barang mahal itu tak otomatis membuat logika ikut naik kelas.
Michelle Halim mati-matian BELA keluarga Jokowi usai jejak digital Iriana pakai perhiasan MILIARAN viral lagi 👀
Michelle nulis, "Pada ribut perhiasan dan berlian bu iriana, wajar 🌹kan ibu negara, masa pakai perhiasan beli di shopee 🤣😭 aku rakyat biasa aja pakai berlian 💎✨."
Michelle juga nulis, "Lanjut masalah tas chanel 😭🤣 WAJAR!! Kita yg remahan rengginang aja pakai hermes 🫵🏻."
Bima retweeted
Meluapkan kemarahan di publik itu konyol dan selalu berujung merugikan diri sendiri.
Belum hilang dari ingatan kita kasus viral orang ngamuk di parkiran, di jalan raya, bahkan yg terakhir di event lari. Semuanya berakhir merugikan dirinya sendiri, impactnya bisa meluas bahkan sampe ke pekerjaan.
Saat ngamuk di depan umum, lo mikir lo lagi kelihatan tegas atau berkuasa. Padahal yang orang lihat cuma satu, lo orang yang hilang kendali. Substansi masalahnya langsung buyar, fokus publik pindah ke emosi lo.
Kekuatan tertinggi di ruang publik itu ketenangan. Lo meledak, lo kalah framing.
Viral Oki Rengga marah-marah kepada suporter PSMS saat klub tersebut menjamu Persija, alasannya ada salah satu suporter yang ingin membentangkan spanduk tentang “KARHUTLA”.
Dari komentar yang beredar, kabarnya jika spanduk tersebut dibentangkan kemungkinan PSMS akan mendapatkan sanksi dari Komdis PSSI.
keras kali bang kau ini sama beginian, sama temen-temen prediksi yang jd buzzer keras juga ga?


























