Mak Utiah retweeted
Replying to @indepenSumatera
jangan lupakan buku merah.
nitter.cf/tempodotco/status/1184…
[THREAD]
Masih ingat dengan buku merah?
Sebuah buku yang berisi catatan transaksi keuangan yang memuat nama Tito Karnavian dan sejumlah pejabat instansi pemerintah.
#IndonesiaLeaks #BukuMerah #RuangKolaborasiKPK #TGPF #TitoKarnavian #NovelBaswedan
Indonesia tdk cukup hanya dibangun dgn program besar dan target pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan mendesak saat ini
1.Hukum yg tegak, tdk ada pihak yg kebal hukum n aparat penegak hukum bukan bagian dari persoalan yg harus di selesaikan
2Pemerintahan yang efisien serta efektif.
Mak Utiah retweeted
::
Ganti Kapolri hanya formalitas, di daerah yg namanya polisi tetap musuh Rakyat.
Ini ada polisi yg mengambil uang santriwati, drone dan panah olahraga demi pamer kekuatan pada bos penjual Mie Babi di Sukoharjo JaTeng yg warungnya dibakar orang tak dikenal.
#BabinyaMarah
••
Mak Utiah retweeted
Denny Indrayana : Sekelas UI dikadali MBG (Mas Bah Ganteng) Sekelas UGM dibodohi Presiden
Mak Utiah retweeted
Halo @DivHumas_Polri kenapa tindakan kalian seperti PKI.?
tempo.co/hukum/polisi-mengge…
Gagal atau sukses sebuah pekerjaan yg sedang dilakukan pasti sudah bisa dirasakan oleh yg sedang melakukan
"Secara tdk langsung sudah."
Mak Utiah retweeted
Ternyata masih banyak orang-orang yang merasa punya kewajiban untuk sensi ketika ada yang mengkritisi penguasa. Bodoh tak bertepi.
Mak Utiah retweeted
Bilang Kalimantan tempat jin buang anak ngamuk,giliran hutanya dibakar diam
Ustadz datang di cekal
Hutan dibakar bungkam
Agak lain emang kelakuan pasukan TBBR yang di pimpin jilah paok ini.
Mak Utiah retweeted
Duh, anak anakku sayang. Tak segitunya kalian berkorban nyawa untuk selembar ijasah.
Tunggu air surut dulu. Please.
Mak Utiah retweeted
TERUNTUK ORANG KALIMANTAN
Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.
Arus... arus... arus.
Dulu waktu Kalimantan disebut tempat jin buang anak, kalian ngamuk. Sekarang hutan dibakar, udara dicemari, para panglima diam. Sudah kenyang jual nama Dayak di tingkat nasional? Idealismenya melemah setelah dapat nama?
Di mana Si Jilah? Di mana pasukan TBBR?
Apa sudah disogok lalu bungkam? Mana ormas TBBR? Harusnya garda terdepan jaga hutan. Diam. Tapi tolak Ustadz Abdul Somad, maju paling depan.
Di mana Petrus? Sudah kenyang dari pundi-pundi jual nama Dayak dengan Sabang Merah? Di mana ormas Sabang Merah? Teriak saat rekan ditangkap, bungkam saat hutan terbakar dan udara rusak. Berpihak ke rakyat atau ke korporasi?
Di mana Pajaji? Tajinya hilang setelah ditempeleng? Sekarang diam.
Buat ketiga panglima itu saran awak, cepat sadar. Jangan jual nama Dayak, suku, dan adat demi kekayaan kalian. Keluar dari sangkar. Jangan cuma mengeram telur. Kalau sudah takut, lebih baik turun.
Keluar. Kerahkan anggota. Jaga hutan. Jaga tanah adat. Lestarikan budaya. Jangan cuma jual nama Dayak demi keuntungan panglima.
Panglima kaya, kalian miskin. Itu yang terjadi.
Panglima bungkam tidak layak disebut panglima.
Mahatma Gandhi berkata: Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan segelintir orang.
Nelson Mandela menulis: Keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan kemenangan atasnya.
Edmund Burke: Agar kejahatan menang, cukup orang baik tidak berbuat apa-apa.
Yang diam saat hutan terbakar bukan netral. Yang diam sedang memilih pihak.
Mak Utiah retweeted
Kalau fraksi PKS di DPR tidak bersikap tegas, saya sendiri dari keluarga ba’alawi yg akan cecar mempertanyakan integritas sikap para perwakilan Habaib yg ada di fraksi PKS terhadap ketegasan bersikap pada yg Haq & yg Batil.
Jangan saat khotbah saja lantangkan amar ma’ruf nahi munkar, tapi dalam prakteknya amar munkar nahi ma’ruf, malu sama gelar.
Jadilah panutan umat, malu juga pada Rasulullah jika agama cuma dijadikan mencari simpati rakyat, tapi saat rakyat meminta menegakkan kebenaran malah condong pada kebatilan.
#Share!





















