Dan kalau boleh dibilang, gak banyak yang peduli dengan gelar kejuaraan F2. Maksudnya, selama si pembalap kemudian berkarir bagus di F1, karir F1 nya yang mendefine pencapaiannya. Dalam kasus Camara, dia malah beruntung bisa debut F1 di kandangnya.
Gak juga. Status rookie masih aman selama gak lebih dari 2 race, tapi masih bisa juga termasuk karena partisipasi sebatas sopir tembak sama seperti kasus Ollie Bearman dan Liam Lawson musim lalu.
Buat gelar juara F2 emang gambling, tapi buat posisi Rafa sekarang sudah aman gak mikirin lagi untuk dijadikan daya tawar perebutan seat, karena superlicense dan seatnya di 2027 sudah aman.
Mengingat beberapa tahun terakhir CV juara F2 sudah jarang dipandang jadi penilaian utama bagi tim F1 untuk merekrut driver muda, jadinya kalaupun mau dilepas juga gak masalah banget bagi dia.
Kalau balapan buat Ferrari belum tentu menang juga, udah paling bener ke Mercedes kalau ngeliat apa yang kemudian terjadi.
Di balik keberhasilan Andrea Kimi Antonelli meraih juara dunia Formula 1, sebenarnya ada sebuah penyesalan yang harus diterima Ferrari.
Massimo Rivola, bos Aprilia yang dulu jadi director Ferrari Driver Academy, pernah sangat ingin merekrutnya untuk menjadi bagian FDA, setelah Kimi Antonelli menjajal simulator pembalap akademi saat diundang ke Maranello.
Kejadiannya di tahun 2017. Rivola sudah sangat berusaha meyakinkan Ferrari untuk merekrut Kimi Antonelli, karena ia sangat yakin dengan bakat dan kedewasaannya yang sudah ditampilkan si anak ajaib dari Bologna.
Namun usahanya tidak berhasil. Maurizio Arrivabene, team principal Ferrari saat itu, menolak Kimi karena dianggap masih terlalu kecil. Sebuah pendekatan keputusan dari Ferrari yang menurut Rivola terlalu konservatif.
Penolakan Ferrari justru membuka pintu rezeki baru bagi Kimi. Toto Wolff gercep menghubungi ayah Kimi beberapa bulan kemudian, hingga akhirnya Kimi jadi bagian dari Mercedes junior programme di 2019.
Dan sisanya adalah sejarah yang terjadi hari ini. Sebuah dosa besar Ferrari yang berbuah menjadi perayaan dan akhir penantian bagi rakyat Italia.
WTS diecast F1 1:43 merk ONYX, @100k aja, kecuali yang Senna 150k. ambil semua 350k. Minat DM aja yaa. Lumayan buat memulai koleksi diecast nyaa
Yang Minichamps 1:43 juga ada (detail jauh lebih bagus dari merk Onyx). @300k aja. (Di marketplace ga ada Minichamps dibawah 400). Ambil semua @1000k . Minat DM yaa. Makasiih
Sabar mas @f1speed_indo , berat banget pasti menunggu di ketidakpastian akibat regulasi HEBAT ini. Sehat-sehat mas!
MBS, LEGO, some drivers don’t even pay a single bit of attention to it, get stuck in the gravel, and end up taxiing other people’s LEGO cars. Please, no.
Pengumuman pemenangnyaaa . youtube.com/post/Ugkx-6jq-O-…
GIVEAWAY Diecast F1 buat yang join membership BoxBoxNow di bulan Mei. Syaratnya simpel aja sih, join membership YT kita, tier manapun, tapi makin tinggi tiernya dapat chance lebih gede.
ada Lotus 72D nya Emerson Fittipaldi buat yang beruntung, akan diundi di awal bulan Juni.
tinyurl.com/joinboxboxnow
Saksi ustadz ga ada min?
Salah satu saksi biksu perjuangan betapa beratnya membangun komunitas F1 di era sebelum Liberty Media, terutama di Indonesia.
1000 pengikut pertama nyaris dua tahun 😂
F1 sempat meledak lagi pada 2016 dengan kehadiran Rio Haryanto. Tapi redup lagi setelah dia tidak lanjut.
Setelah akuisisi Liberty Media juga tidak langsung instan. Prosesnya lumayan lama & pelan-pelan banget. Sampai kemudian DTS & drama 2021 jadi katalis yang membuat penggemar F1 di Indonesia naik secara signifikan dan booming sampai sekarang.
Setuju, jebakan ilmu pengetahuan. Kita ngerasa orang tau apa yang kita tahu, sehingga pas ada orang ga tau akhirnya bilang “masa kaya gitu aja ga tau!?”.
BoxBoxNow🍉 retweeted
HELLO EVERYONE!!! it’s me nattie @albonness and i’m proud to tell you that i finished my undergraduate thesis with f1! 🏎️✨
(ik some of you were here when i posted my proposal hehe)
took me almost a year and a season, but i think it’s worth the effort ‼️💗


























