Kita sering mengira mencintai diri sendiri itu soal perawatan diri, beli barang yang kita suka, atau liburan sendirian. Padahal ada bentuk cinta yang lebih sunyi dan jauh lebih berat: berani pergi dari orang yang terus-menerus bikin kita kecewa.
Karena nyatanya, meninggalkan itu nggak pernah gampang. Kita sudah telanjur punya kenangan, sudah telanjur sayang, dan sudah terlalu sering bilang ke diri sendiri, "mungkin nanti dia berubah." Kita bertahan bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena takut kehilangan, takut sendirian, dan takut harus memulai dari awal.
Padahal setiap kali kita tetap tinggal di tempat yang melukai, sebenarnya ada bagian dari diri kita yang ikut dikorbankan. Rasa percaya diri pelan-pelan terkikis, hati makin lelah, dan kita jadi lupa seperti apa rasanya diperlakukan dengan baik. Lama-lama, kita menganggap kecewa itu hal biasa.
Padahal kamu berhak mendapatkan lebih dari sekadar janji yang nggak ditepati dan usaha yang selalu datang dari satu pihak. Kamu berhak berada di tempat yang membuatmu merasa tenang, dihargai, dan nggak perlu terus bertanya-tanya.
Jadi kalau hari ini kamu sedang ada di titik harus memilih, jangan takut. Pergi bukan berarti kamu jahat, bukan juga berarti kamu menyerah. Kamu cuma sedang berhenti menyakiti dirimu sendiri.
Mungkin awalnya terasa kosong dan sepi. Tapi pelan-pelan, ruang yang kosong itu akan terisi oleh ketenangan, dan suatu hari kamu akan sadar bahwa keputusan itu adalah salah satu hal terbaik yang pernah kamu lakukan untuk dirimu sendiri.
Mario. retweeted
Perjuangan orang dengan anxiety bukan hanya tentang mengontrol pikiran, tetapi juga menenangkan jantung yang terus berdetak kencang. Mereka mungkin sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, tubuhnya masih merespons seolah-olah sedang menghadapi bahaya.
Napas terasa sesak, dada berdebar, tubuh tegang, dan pikiran sulit berhenti memikirkan kemungkinan buruk. Bukan karena mereka tidak mau tenang.
Terkadang, mereka hanya belum mampu membuat pikiran dan tubuhnya kembali merasa aman.
Mario. retweeted
No rules, just scissors and pure impulse. Sometimes a drastic chop is the ultimate restart.
Niatnya cuma mau bikin pisaunya gak nyiksa tomat lagi.
Soalnya tiap motong bukan sliced...
malah KEPEJET 😭
Akhirnya diasah pelan-pelan.
Dibasahin.
Geser kanan.
Geser kiri.
Cek lagi.
Terus dicoba ke tomat.
Sekali lewat...
MULUS.
Coba lagi.
Tipis.
Coba timun.
Mulus juga.
Di situ langsung muncul rasa puas yang agak berlebihan.
Sampai akhirnya berhenti sebentar dan mikir:
“Eh... sekarang kok tajem banget ya?”
Tadinya kesel karena tumpul.
Sekarang malah jadi segan sendiri.
Beberapa benda di dapur memang cuma butuh dirawat.
Setelah dirawat, kita yang jadi sopan.
Mario. retweeted
Transformation level: expert. Just a few strokes and a whole different vibe. Honestly, I've been looping this for so many times, it's just too good!
Mario. retweeted
Seporsi untuk adab:
Ketika kamu berkonflik dengan orang yang merasa dirinya paling baik dan benar, maka untuk menyelesaikannya, cukup Diam dan pergi menjauhi diri.
Karena percuma berdebat dengan orang yang CACAT LOGIKA! REMEMBER






























