
Penulis Cerita Horror, Urban Legend, Misteri, Kisah leluhur. ( update tiap #malamjumat ) Business inquiry : 0882 0056 04288 (WA) index cerita di link di bawah
Jawa Tengah, Indonesia
Joined August 2009
- Tweets42.5K
- Following560
- Followers79.9K
- Likes9.1K
Pinned Tweet
INDEX JAGAD SEGORO DEMIT
JSD - Karyakarsa x Twitter
1. Imah Leuweung - nitter.cf/diosetta/status/141486…
2. Radio Tengah Malam - nitter.cf/diosetta/status/141605…
3. Gending Alas Mayit - nitter.cf/diosetta/status/141334…
4. Ludruk Topeng Ireng - nitter.cf/diosetta/status/142309…
5. Senandung Sedu Lembayung Senja (Part 1) - nitter.cf/diosetta/status/142575…
6. Senandung Sedu Lembayung Senja (Part 2) - nitter.cf/diosetta/status/142821…
7. Senandung Sedu Lembayung Senja (Part 3) - nitter.cf/diosetta/status/142944…
8. Jejak Ghaib Alam Merapi - nitter.cf/diosetta/status/142710…
9. Widarpa Dayu Sambara - nitter.cf/diosetta/status/143476…
10. Jagad Segoro Demit - nitter.cf/diosetta/status/143080…
11. Jeritan Lembah Keramat - nitter.cf/diosetta/status/144087…
12. Dalang Demit Kampung Wayang - nitter.cf/diosetta/status/145145…
13. Monyet Kembar Alas Wetan - nitter.cf/diosetta/status/145727…
14. Desa Tanggul Mayit - nitter.cf/diosetta/status/147205…
15. Getih Ireng Abdi Lelembut - nitter.cf/diosetta/status/148653…
16. Sukma Geni - nitter.cf/diosetta/status/150253…
17. Keris Benggolo Ireng - nitter.cf/diosetta/status/150173…
18. Sinden Pengabdi Setan - nitter.cf/diosetta/status/152784…
19. Setra Gandamayit - nitter.cf/diosetta/status/154319…
20. Danan & Cahyo - nitter.cf/diosetta/status/156857…
21. Sendang Banyu Getih - nitter.cf/diosetta/status/158615…
22. Dendam Patung Arwah - nitter.cf/diosetta/status/161589…
23. Daryana Putra Sambara - nitter.cf/diosetta/status/170731…
24. Alas Sewu Lelembut - nitter.cf/diosetta/status/163878…
25. Manten Mayit - nitter.cf/diosetta/status/165905…
26. Cahyo - Turonggo Mayit - nitter.cf/diosetta/status/167436…
27. Kutukan Sewu Lelembut - nitter.cf/diosetta/status/168449…
28. Tumbal Manten - nitter.cf/diosetta/status/171485…
29. Daryana - Tanding Sukmo - karyakarsa.com/diosetta69/da…
30. Kurusetra - nitter.cf/diosetta/status/172501…
31. Pagelaran Sewu Lelembut - nitter.cf/diosetta/status/168449…
32. Jagad Segoro Demit II - nitter.cf/diosetta/status/180370…
33. Perang Tanah Danyang - nitter.cf/diosetta/status/184172…
34. Pusakayana - nitter.cf/diosetta/status/191779…
35. Jurang Penari - nitter.cf/diosetta/status/195850…
36. Puri Jagatsukma - nitter.cf/diosetta/status/197614…
LUDRUK TOPENG IRENG
Siap-siap abis maghrib saya upload..
Sambil menunggu tolong bantu retweet ya..
@bacahorror
@IDN_Horor
@ceritaht
@cerita_setann
@qwertyping
@horrornesia
#ludruktopengireng
Yg ga sabar bisa dengerin dulu di podcast @bagihorror , udah di upload semalem.
Diosetta retweeted
Tahun 1949.
Dimana laskar perjuang harus kembali ke Jawa Barat setelah hijrah ke Yogyakarta. Ketika pasukan mereka tertahan di Garut, sebuah kelompok kecil memutuskan untuk berpisah, mereka menyusuri pegunungan selatan agar menghindari Belanda.
Namun, bukan Belanda yang mereka temukan, malah sesuatu yang misterius yang memburu mereka dari rimbunnya hutan pegunungan Selatan Jawa barat.
-Thread-
Izin Tag bantu RT/QRT, Reply Terima kasih
@IDN_Horor
@bacahorror
@threadhorror
@menghorror
@bagihorror
@karyakarsa
@ceritaht
@P_C_HORROR
@autojerit
#bacahorror #ceritahantu #ceritaseram
Pernah nginep sekali dulu banget. Di traveloka kena 180rb. Lokasinya padahal strategis banget. Mau makan, nonton bioskop tinggal jalan kaki.
Suasananya emang creepy, sprei2nya udah agak kuning, lantai kamar mandi masih keramik lama.
Tapi ga ngalamin yg aneh2, selain kayak ngerasa selalu ada yg ngeliatin di kamar kalo lg tidur. Feel yg wajar kalau nginep di hotel2 lama.
Malah termasuk lebih ok dari hotel2 oyo dengan harga yg sama waktu dulu.
gaes bjirlah...
liat di threads katanya hotel ogh doni di jogja reviews di mapsnya serem2, pas saya cek beneran 💀
- ada pasangan suami istri ketakutan lari keluar tiba2
- ada pengunjung kesurupan
- ada yg liat pocong
- pas keramas tau2 ada rambut panjang rontok
bjirr harusnya jadi wisata horror skalian gak sih??? pasti rame ☠️
ada yg pernah nginep di hotel ini???
Daripada channel satunya kosong. Saya isi dengan cerita2 penghantar tidur yang agak santai ya buat didengerin sambil ngerjain yg lain atau cari ngantuk...
youtu.be/a1hrmaQKdlY?si=iKI2…
KAMPUNG KHODAM
Part 2 - Pejaga Makam
Dari jauh bambu itu terlihat berdiri sendiri di tengah kuburan, dan gerakannya tak seperti batang bambu pada biasa.
Sampai kami sadar, bambu itu memiliki wajah, rambut, dan mengenakan kafan berlumur darah
@bacahorror @IDN_Horor #bacahorror
Gak nyangka, poster filmnya sekeren ini! Kelihatan banget kalau Film Zona Merah kali ini benar-benar digarap totalitas. Ratusan zombie dan sebuah pesawat dalam satu poster sukses bikin penasaran. Kira-kira bakal ada adegan seseru apa, ya? Satu hal yang pasti, film ini bakal seru banget untuk ditonton!
14 Januari 2027, Film Zona Merah tayang di bioskop! Saatnya kita buktikan keseruannya langsung di layar lebar!
#ZonaMerah #FilmZonaMerah
Gak nyangka, poster filmnya sekeren ini! Kelihatan banget kalau Film Zona Merah kali ini benar-benar digarap totalitas. Ratusan zombie dan sebuah pesawat dalam satu poster sukses bikin penasaran. Kira-kira bakal ada adegan seseru apa, ya? Satu hal yang pasti, film ini bakal seru banget untuk ditonton!
14 Januari 2027, Film Zona Merah tayang di bioskop! Saatnya kita buktikan keseruannya langsung di layar lebar!
#ZonaMerah #FilmZonaMerah
KAMPUNG KHODAM
Part 2 - Pejaga Makam
Dari jauh bambu itu terlihat berdiri sendiri di tengah kuburan, dan gerakannya tak seperti batang bambu pada biasa.
Sampai kami sadar, bambu itu memiliki wajah, rambut, dan mengenakan kafan berlumur darah
@bacahorror @IDN_Horor #bacahorror
Baru saja memasuki desa, Danan dan rombongan mendapati seseorang berdiri di tengah jalan. Lelaki itu tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah sengaja menunggu kedatangan mereka.
Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, sosoknya tampak begitu tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri sendirian di jalanan desa pada malam hari.
Penampilannya sederhana. Ia mengenakan celana bahan hitam, sandal jepit, dan kemeja yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Beberapa batu akik melingkar di jari-jarinya.
Namun, bukan penampilan lelaki itu yang membuat Danan waspada. Ada sesuatu yang terasa ganjil dari keberadaannya, semacam tekanan tak kasatmata yang membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih berat.
“Pak Broto?” sapa Pak Rohim.
Lelaki bernama Broto itu tidak membalas sapaan tersebut. Ia justru menatap Pak Rohim dengan sorot mata dingin, seolah-olah kehadiran lelaki itu sudah cukup untuk membangkitkan kejengkelan yang selama ini dipendamnya.
“Pak Rohim, sudah saya bilang, tidak usah ikut campur urusan kami.”
Pak Rohim mengepalkan tangan. Keringat mulai membasahi pelipisnya, tetapi ia tidak berani membalas perkataan itu. Di sampingnya, Mang Ucup memilih diam dengan kepala sedikit tertunduk.
Bahkan lelaki yang biasanya banyak bicara itu kini tampak kehilangan keberaniannya.
Pak Broto kemudian mengalihkan pandangan kepada Danan. Tatapannya menyapu pemuda itu dari ujung kepala hingga kaki, sebelum berhenti pada wajahnya.
“Dan kamu bukan orang sini!” bentaknya. “Jangan sok jadi jagoan di kampung orang!”
Danan tidak menjawab. Ia mengamati Pak Broto dengan saksama, mencoba memahami apa yang membuat lelaki itu begitu berani mengancam mereka.
Pak Broto jelas bukan orang sembarangan. Dari sikap Pak Rohim saja, Danan bisa melihat bahwa lelaki tua itu menyimpan ketakutan yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa segan terhadap seseorang yang disegani warga.
Seolah merasa tidak perlu lagi membuang waktu, Pak Broto berbalik dan mulai berjalan meninggalkan mereka.
Namun, baru beberapa langkah, suara Danan memecah kesunyian.
“Tidak akan ada akhir yang baik bagi orang yang bersekutu dengan setan, Pak!”
Pak Rohim sontak mencengkeram lengan Danan. Wajahnya berubah tegang. Ia menggeleng cepat, memberi isyarat agar pemuda itu berhenti bicara.
Sayangnya, peringatan itu terlambat.
Langkah Pak Broto terhenti.
Untuk beberapa saat, lelaki itu hanya berdiri membelakangi mereka. Jalanan desa kembali sunyi. Bahkan suara jangkrik yang sejak tadi terdengar dari semak-semak di pinggir jalan seolah lenyap begitu saja.
Perlahan, Pak Broto memiringkan kepalanya.
“Jadi, kau juga sudah tahu...”
Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Ia kemudian menoleh.
Deg!
Danan seketika menegang.
Separuh wajah Pak Broto telah hangus. Kulit di sisi kiri wajahnya menghitam dan mengelupas, memperlihatkan daging yang tampak melepuh.
Sebagian rambutnya gosong, sementara dari rongga mata yang rusak itu memancar cahaya merah redup. Di samping kepalanya, beberapa bola api melayang tanpa sumber yang jelas. Nyala mereka berdenyut-denyut, meninggalkan jejak asap hitam yang segera lenyap di udara.
Pemandangan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup bagi Danan untuk mengenali aura mengerikan yang menyelubungi lelaki tersebut.
Pak Broto bukan sekadar seseorang yang mempelajari ilmu hitam.
Ia telah melakukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
“Manusia-manusia berhati setan seperti mereka tidak bisa dilawan dengan cara biasa,” ucap Pak Broto. Tatapannya menancap tajam ke arah Danan.
“Kadang-kadang, untuk menghukum mereka, kita harus menggunakan cara yang sama kotornya.”
Bola-bola api di samping wajahnya bergerak perlahan. Salah satunya mendekat ke bahunya, lalu berputar seperti makhluk hidup yang sedang menunggu perintah.
Danan terdiam. Kini ia mengerti.
Lelaki inilah yang telah membunuh Burhan dan keluarganya..
Namun, yang membuat Danan semakin waspada bukanlah kenyataan bahwa Pak Broto memiliki kekuatan untuk membunuh seseorang.
Melainkan cara lelaki itu berbicara, seolah-olah semua tindakannya dapat dibenarkan selama orang yang menjadi korbannya dianggap pantas menerima hukuman.
Tidak ada kebanggaan dalam sorot mata Pak Broto. Tidak pula keserakahan yang biasa ditemukan pada orang-orang yang mengejar kesaktian atau kekayaan melalui jalan gaib.
Yang terlihat justru kekecewaan mendalam.
Kekecewaan seseorang yang mungkin telah menyaksikan terlalu banyak kejahatan, terlalu lama menunggu keadilan, hingga akhirnya memutuskan bahwa dirinya sendiri yang harus menjatuhkan hukuman.
Danan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kampung itu. Ia juga belum mengetahui sejauh mana keterlibatan Pak Broto dalam berbagai peristiwa mengerikan yang telah merenggut nyawa warga.
Namun, satu hal mulai ia pahami, lelaki itu tidak menganggap dirinya sebagai penjahat.
Di dalam pikirannya, mungkin justru orang-orang yang selama ini berlindung di balik nama baik dan kehormatanlah yang pantas disebut monster.
Pak Broto memandang Danan untuk terakhir kalinya. Bola-bola api di samping wajahnya perlahan meredup, tetapi hawa panas yang menyertainya masih terasa hingga beberapa meter jauhnya.
“Jangan ikut campur dalam urusan yang tidak kamu pahami,” katanya. “Kalau kamu masih ingin pulang dengan selamat, tinggalkan kampung ini.”
Setelah itu, ia kembali melangkah.
Pak Rohim perlahan melepaskan tangan Danan. Ia mengembuskan napas panjang, tetapi wajahnya masih menyimpan ketegangan.
Danan menyadari bahwa Pak Rohim sudah begitu lama tak berkutik melihat keadaan di kampung ini. Tapi ia pun tak menyerah untuk berharap hingga adanya orang atau kesempatan untuk menyelamatkan mereka.
Sementara Pak Rohim larut dalam pikirannya, Danan merogoh saku celana dan mengeluarkan telepon genggam. Ia menatap layar selama beberapa saat, lalu membuka ruang percakapan dengan seseorang yang selama ini bisa diandalkannya ketika berhadapan dengan persoalan yang terlalu rumit untuk diselesaikan seorang diri.
Jempolnya bergerak mengetik sebuah pesan singkat.
"Jul! Ada kondangan! Ikut gak?"
Pesan itu terkirim.
Danan memasukkan kembali telepon genggamnya ke saku, kemudian mengangkat pandangan ke arah jalan yang baru saja dilalui Pak Broto.
Wajahnya kembali serius.
Jika dugaannya benar, kematian Burhan hanyalah satu bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Pak Broto mungkin telah memilih jalan gelap untuk menghukum orang-orang yang dianggapnya pantas menerima balasan.
Namun, Danan tahu betul bahwa ketika seseorang mulai menjadikan kekuatan gaib sebagai alat untuk menghakimi manusia, batas antara keadilan dan kebiadaban bisa lenyap tanpa disadari.
Dan di desa ini, batas itu tampaknya sudah lama terhapus.
Yang membuat Danan khawatir, ia belum tahu berapa banyak orang yang telah melewatinya.
***
(Bersambung Part 3)
Terima kasih sudah membaca part ini hingga selesai. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung.
buat teman-teman yang mau membaca kelanjutannya duluan atau sekedar support bisa mampir ke @karyakarsa_id ya :
karyakarsa.com/diosetta69/ka…











