![Aku Telan Darah Menstruasiku, [Gambar Ilustrasi Pemasangan Pembalut] Karena Tiap Tetesnya Adalah Barang Mewah Yang Layak Dikenakan Pajak Menurut Si Bangsat di Singgasana.](https://pbs.twimg.com/media/HV2zFfGaQAAzGaO.jpg?name=small&format=webp)
ALT Aku Telan Darah Menstruasiku, [Gambar Ilustrasi Pemasangan Pembalut] Karena Tiap Tetesnya Adalah Barang Mewah Yang Layak Dikenakan Pajak Menurut Si Bangsat di Singgasana.

ALT Paragraf 1: Ma, hari ini kita makan menu baru bewarna merah pekat, bertekstur lembut seperti jeli yang sering aku pinta sambil menangis di warung saat kecil. Aku minta maaf jika baunya sedikit amis seperti telur setengah matang yang mama masak untuk hemat gas dan minyak. Paragraf 2: Ma, sangat mulia pemimpin yang maha bijaksana ini, mereka kenakan pajak mewah pada darah yang menetes saban bulan sekali tanpa permisi. Baik sekali mereka anggap darah kita seperti barang mewah, padahal dulu mereka mendelik jijik lihat merahnya tembus di rok putih sekolahku.

ALT Re: Kesimpulan yang ingin aku katakan, akan aku telan kembali darah menstruasi yang keluar dari tubuhku ke dalam sistem pencernaan, demi capai dua efisiensi sekaligus: kurangi ketergantungan pada pembalut penyerap yang harganya semakin tidak masuk akal akibat kebijakan pajak, sekaligus penuhi kebutuhan kalori tubuh dan redakan kontraksi lambung akibat rasa lapar melalui satu tindakan yang tidak lazim.















































