Lol
Ada satu jenis sakit yang rasanya beda dari yang lain. Bukan sakit saat semuanya memang lagi buruk, tapi saat kita sudah mulai bernapas lega, mulai percaya bahwa yang berat sudah lewat, lalu tiba-tiba kita balik lagi ke titik yang sama.
Padahal selama masa tenang itu, kita sudah berusaha banyak. Belajar menerima, belajar melepas, belajar menata hati sedikit demi sedikit. Kita sempat berpikir, "mungkin akhirnya aku sudah baik-baik saja." Dan di saat harapan itu mulai tumbuh, kenyataan datang lagi dengan cerita yang sama.
Yang bikin nyesek, rasanya seperti semua usaha kemarin jadi sia-sia. Kita mulai bertanya-tanya, "apa selama ini aku cuma jalan di tempat?" atau "kenapa harus terulang lagi?" Lelahnya dua kali lipat, karena kita harus merasakan sakit itu lagi sambil menghadapi kecewa pada diri sendiri.
Tapi coba lihat dengan cara lain. Kembali ke situasi yang sama bukan berarti kamu mundur ke nol. Kamu yang sekarang sudah bukan kamu yang dulu. Kamu sudah lebih paham, lebih tahu batas, dan lebih kenal apa yang bikin hatimu jatuh. Masa tenang kemarin juga bukti bahwa kamu bisa membaik, jadi kamu pasti bisa melewatinya lagi.
Proses sembuh memang jarang lurus. Kadang maju, kadang mundur, kadang berputar di tempat yang sama. Itu nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak berhenti dan nggak menyalahkan dirimu terlalu keras.
Jadi kalau hari ini rasanya berat karena semuanya terulang lagi, izinkan dirimu lelah sebentar. Tapi jangan lupa, kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya, dan kamu bisa melakukannya lagi.
Testei fazer fricção usando escova de aço
Ada satu jenis sakit yang rasanya beda dari yang lain. Bukan sakit saat semuanya memang lagi buruk, tapi saat kita sudah mulai bernapas lega, mulai percaya bahwa yang berat sudah lewat, lalu tiba-tiba kita balik lagi ke titik yang sama.
Padahal selama masa tenang itu, kita sudah berusaha banyak. Belajar menerima, belajar melepas, belajar menata hati sedikit demi sedikit. Kita sempat berpikir, "mungkin akhirnya aku sudah baik-baik saja." Dan di saat harapan itu mulai tumbuh, kenyataan datang lagi dengan cerita yang sama.
Yang bikin nyesek, rasanya seperti semua usaha kemarin jadi sia-sia. Kita mulai bertanya-tanya, "apa selama ini aku cuma jalan di tempat?" atau "kenapa harus terulang lagi?" Lelahnya dua kali lipat, karena kita harus merasakan sakit itu lagi sambil menghadapi kecewa pada diri sendiri.
Tapi coba lihat dengan cara lain. Kembali ke situasi yang sama bukan berarti kamu mundur ke nol. Kamu yang sekarang sudah bukan kamu yang dulu. Kamu sudah lebih paham, lebih tahu batas, dan lebih kenal apa yang bikin hatimu jatuh. Masa tenang kemarin juga bukti bahwa kamu bisa membaik, jadi kamu pasti bisa melewatinya lagi.
Proses sembuh memang jarang lurus. Kadang maju, kadang mundur, kadang berputar di tempat yang sama. Itu nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak berhenti dan nggak menyalahkan dirimu terlalu keras.
Jadi kalau hari ini rasanya berat karena semuanya terulang lagi, izinkan dirimu lelah sebentar. Tapi jangan lupa, kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya, dan kamu bisa melakukannya lagi.
Just feeling something satisfying in this
Ada satu jenis sakit yang rasanya beda dari yang lain. Bukan sakit saat semuanya memang lagi buruk, tapi saat kita sudah mulai bernapas lega, mulai percaya bahwa yang berat sudah lewat, lalu tiba-tiba kita balik lagi ke titik yang sama.
Padahal selama masa tenang itu, kita sudah berusaha banyak. Belajar menerima, belajar melepas, belajar menata hati sedikit demi sedikit. Kita sempat berpikir, "mungkin akhirnya aku sudah baik-baik saja." Dan di saat harapan itu mulai tumbuh, kenyataan datang lagi dengan cerita yang sama.
Yang bikin nyesek, rasanya seperti semua usaha kemarin jadi sia-sia. Kita mulai bertanya-tanya, "apa selama ini aku cuma jalan di tempat?" atau "kenapa harus terulang lagi?" Lelahnya dua kali lipat, karena kita harus merasakan sakit itu lagi sambil menghadapi kecewa pada diri sendiri.
Tapi coba lihat dengan cara lain. Kembali ke situasi yang sama bukan berarti kamu mundur ke nol. Kamu yang sekarang sudah bukan kamu yang dulu. Kamu sudah lebih paham, lebih tahu batas, dan lebih kenal apa yang bikin hatimu jatuh. Masa tenang kemarin juga bukti bahwa kamu bisa membaik, jadi kamu pasti bisa melewatinya lagi.
Proses sembuh memang jarang lurus. Kadang maju, kadang mundur, kadang berputar di tempat yang sama. Itu nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak berhenti dan nggak menyalahkan dirimu terlalu keras.
Jadi kalau hari ini rasanya berat karena semuanya terulang lagi, izinkan dirimu lelah sebentar. Tapi jangan lupa, kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya, dan kamu bisa melakukannya lagi.
Ada fase di hidup ketika kita lelah menjelaskan, lelah bercerita, dan lelah berpura-pura baik-baik saja. Di titik itu, yang kita butuhkan bukan nasihat atau keramaian, tapi ruang untuk diam.
Kadang, healing yang paling jujur itu nggak seindah yang dibayangkan. Bukan liburan, bukan nongkrong, bukan foto estetik yang diunggah ke media sosial. Justru sesederhana menghilang sebentar dari semuanya. Berhenti membalas pesan yang menguras tenaga, berhenti ikut percakapan yang bikin hati makin berat, dan berhenti merasa harus selalu hadir untuk semua orang.
Dalam diam itu, pelan-pelan kita mulai mendengar suara diri sendiri. Kita jadi tahu apa yang sebenarnya melukai, apa yang selama ini dipendam, dan apa yang perlu dilepas. Kita belajar berdamai, bukan dengan melupakan semuanya, tapi dengan menerima bahwa beberapa hal memang sudah terjadi dan nggak bisa diubah.
Lalu ada ibadah, tempat kita menaruh semua beban yang sudah nggak sanggup dibawa sendiri. Bicara dan mengadu pada Tuhan sering kali memberi tenang yang nggak bisa diberikan manusia mana pun. Dan tidur, hal yang kelihatannya sepele, ternyata bisa jadi obat yang bikin hati dan pikiran punya kesempatan untuk pulih.
Jadi kalau sekarang kamu memilih diam dan menjauh sejenak, itu bukan berarti kamu lari dari masalah. Kamu sedang menyembuhkan diri dengan caramu sendiri. Pelan-pelan saja, nggak perlu buru-buru, karena luka yang diberi waktu dan ruang akan sembuh pada waktunya.
यह कितनी दूर तक उड़ सकता है?
Ada fase di hidup ketika kita lelah menjelaskan, lelah bercerita, dan lelah berpura-pura baik-baik saja. Di titik itu, yang kita butuhkan bukan nasihat atau keramaian, tapi ruang untuk diam.
Kadang, healing yang paling jujur itu nggak seindah yang dibayangkan. Bukan liburan, bukan nongkrong, bukan foto estetik yang diunggah ke media sosial. Justru sesederhana menghilang sebentar dari semuanya. Berhenti membalas pesan yang menguras tenaga, berhenti ikut percakapan yang bikin hati makin berat, dan berhenti merasa harus selalu hadir untuk semua orang.
Dalam diam itu, pelan-pelan kita mulai mendengar suara diri sendiri. Kita jadi tahu apa yang sebenarnya melukai, apa yang selama ini dipendam, dan apa yang perlu dilepas. Kita belajar berdamai, bukan dengan melupakan semuanya, tapi dengan menerima bahwa beberapa hal memang sudah terjadi dan nggak bisa diubah.
Lalu ada ibadah, tempat kita menaruh semua beban yang sudah nggak sanggup dibawa sendiri. Bicara dan mengadu pada Tuhan sering kali memberi tenang yang nggak bisa diberikan manusia mana pun. Dan tidur, hal yang kelihatannya sepele, ternyata bisa jadi obat yang bikin hati dan pikiran punya kesempatan untuk pulih.
Jadi kalau sekarang kamu memilih diam dan menjauh sejenak, itu bukan berarti kamu lari dari masalah. Kamu sedang menyembuhkan diri dengan caramu sendiri. Pelan-pelan saja, nggak perlu buru-buru, karena luka yang diberi waktu dan ruang akan sembuh pada waktunya.
Happy kids wih papa
Ada fase di hidup ketika kita lelah menjelaskan, lelah bercerita, dan lelah berpura-pura baik-baik saja. Di titik itu, yang kita butuhkan bukan nasihat atau keramaian, tapi ruang untuk diam.
Kadang, healing yang paling jujur itu nggak seindah yang dibayangkan. Bukan liburan, bukan nongkrong, bukan foto estetik yang diunggah ke media sosial. Justru sesederhana menghilang sebentar dari semuanya. Berhenti membalas pesan yang menguras tenaga, berhenti ikut percakapan yang bikin hati makin berat, dan berhenti merasa harus selalu hadir untuk semua orang.
Dalam diam itu, pelan-pelan kita mulai mendengar suara diri sendiri. Kita jadi tahu apa yang sebenarnya melukai, apa yang selama ini dipendam, dan apa yang perlu dilepas. Kita belajar berdamai, bukan dengan melupakan semuanya, tapi dengan menerima bahwa beberapa hal memang sudah terjadi dan nggak bisa diubah.
Lalu ada ibadah, tempat kita menaruh semua beban yang sudah nggak sanggup dibawa sendiri. Bicara dan mengadu pada Tuhan sering kali memberi tenang yang nggak bisa diberikan manusia mana pun. Dan tidur, hal yang kelihatannya sepele, ternyata bisa jadi obat yang bikin hati dan pikiran punya kesempatan untuk pulih.
Jadi kalau sekarang kamu memilih diam dan menjauh sejenak, itu bukan berarti kamu lari dari masalah. Kamu sedang menyembuhkan diri dengan caramu sendiri. Pelan-pelan saja, nggak perlu buru-buru, karena luka yang diberi waktu dan ruang akan sembuh pada waktunya.
Mientras más años cumplo, más entiendo a quienes se desaparecen para vivir en paz. No se fueron: encontraron un lugar donde ya no hay que explicarse. Una vida tranquila y privada también es una forma de amor propio, mi pana. 🤍
Sanar no depende de quién te acompañe, sino de qué tan sincero seas contigo mismo. Ve con calma, no te apures, mi pana. Las heridas necesitan tiempo, no explicaciones. Descansa, abrázate y confía en que todo volverá a estar bien a su tiempo. 🤍
Play fun with bestfriends
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.
This kids just curious
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.
Have fun with bestfriends 😍
Kadang kita seringnya selalu gampang kepikiran. Mau ngomong sesuatu, kita mikir, "nanti dia tersinggung nggak ya?" Mau menolak ajakan, kita ngerasa nggak enak. Mau jujur soal perasaan, kita tahan karena takut bikin dia sedih. Semua kita timbang dengan hati-hati, sampai capek sendiri.
Tapi coba lihat baliknya. Apakah dia melakukan hal yang sama untuk kita? Kadang jawabannya nggak enak didengar. Dia bisa ngomong seenaknya, membatalkan janji dengan santai, atau menghilang tanpa kabar, dan kelihatannya nggak ada beban sama sekali. Sementara kita masih sibuk menjaga perasaannya, dia bahkan nggak pernah mikir soal perasaan kita.
Itu yang bikin timpang. Kita menjaga dengan sepenuh hati, sedangkan yang dijaga nggak merasa perlu menjaga balik. Lama-lama, kepedulian kita habis di tempat yang salah, dan yang tersisa cuma lelah.
Peduli sama orang lain itu hal baik, dan nggak perlu dihilangkan. Tapi kepedulian juga perlu tempat yang tepat, yaitu orang yang bisa menghargainya. Nggak semua orang pantas mendapat versi kita yang paling hati-hati dan paling mengalah.
Jadi mulai sekarang, coba seimbangkan. Jaga perasaan orang yang juga menjaga perasaanmu. Kalau ada yang bersikap sebodoamat, kamu boleh kok mengurangi porsi pedulimu. Itu bukan jahat, itu cara melindungi hatimu sendiri.
Really enjoy this fights
Ada orang yang pernah menyakitimu, lalu waktu kamu terlihat sedih, marah, atau menjauh, dia malah bilang, "kok kamu jadi aneh sih?" atau "aku nggak ngapa-ngapain, kamu aja yang baper." Seolah-olah reaksimu yang jadi sumber masalahnya, bukan perbuatannya.
Padahal reaksi itu hanya akibat. Kalau seseorang terluka, wajar dia menangis, kecewa, atau berubah sikap. Itu cara manusia merespons rasa sakit. Menyalahkan orang yang terluka karena reaksinya sama saja dengan memukul seseorang lalu protes kenapa dia meringis.
Menyakiti orang lain memang bisa terjadi, entah sengaja atau nggak. Manusia bisa khilaf. Tapi setelah itu ada pilihan: mengakui dan memperbaiki, atau memutarbalikkan keadaan supaya dirinya tetap kelihatan benar. Pilihan kedua inilah yang manipulatif, karena yang dipakai bukan kejujuran, tapi cara membuat orang lain meragukan perasaannya sendiri.
Yang paling berbahaya dari pola begini, korbannya pelan-pelan percaya bahwa dirinya memang bermasalah. Mulai berpikir, "mungkin aku yang terlalu sensitif," padahal rasa sakitnya nyata dan punya sebab yang jelas.
Jadi kalau kamu pernah ada di posisi itu, ingat bahwa perasaanmu valid. Nggak apa-apa terluka, nggak apa-apa bereaksi. Dan kalau suatu hari kamu yang menyakiti orang lain, jangan balik menyalahkan mereka. Cukup akui, minta maaf, dan belajar dari situ. Itu yang namanya adab.
Playing with bestfriends
Ada orang yang pernah menyakitimu, lalu waktu kamu terlihat sedih, marah, atau menjauh, dia malah bilang, "kok kamu jadi aneh sih?" atau "aku nggak ngapa-ngapain, kamu aja yang baper." Seolah-olah reaksimu yang jadi sumber masalahnya, bukan perbuatannya.
Padahal reaksi itu hanya akibat. Kalau seseorang terluka, wajar dia menangis, kecewa, atau berubah sikap. Itu cara manusia merespons rasa sakit. Menyalahkan orang yang terluka karena reaksinya sama saja dengan memukul seseorang lalu protes kenapa dia meringis.
Menyakiti orang lain memang bisa terjadi, entah sengaja atau nggak. Manusia bisa khilaf. Tapi setelah itu ada pilihan: mengakui dan memperbaiki, atau memutarbalikkan keadaan supaya dirinya tetap kelihatan benar. Pilihan kedua inilah yang manipulatif, karena yang dipakai bukan kejujuran, tapi cara membuat orang lain meragukan perasaannya sendiri.
Yang paling berbahaya dari pola begini, korbannya pelan-pelan percaya bahwa dirinya memang bermasalah. Mulai berpikir, "mungkin aku yang terlalu sensitif," padahal rasa sakitnya nyata dan punya sebab yang jelas.
Jadi kalau kamu pernah ada di posisi itu, ingat bahwa perasaanmu valid. Nggak apa-apa terluka, nggak apa-apa bereaksi. Dan kalau suatu hari kamu yang menyakiti orang lain, jangan balik menyalahkan mereka. Cukup akui, minta maaf, dan belajar dari situ. Itu yang namanya adab.
Brave bestfriend prank
Ada orang yang pernah menyakitimu, lalu waktu kamu terlihat sedih, marah, atau menjauh, dia malah bilang, "kok kamu jadi aneh sih?" atau "aku nggak ngapa-ngapain, kamu aja yang baper." Seolah-olah reaksimu yang jadi sumber masalahnya, bukan perbuatannya.
Padahal reaksi itu hanya akibat. Kalau seseorang terluka, wajar dia menangis, kecewa, atau berubah sikap. Itu cara manusia merespons rasa sakit. Menyalahkan orang yang terluka karena reaksinya sama saja dengan memukul seseorang lalu protes kenapa dia meringis.
Menyakiti orang lain memang bisa terjadi, entah sengaja atau nggak. Manusia bisa khilaf. Tapi setelah itu ada pilihan: mengakui dan memperbaiki, atau memutarbalikkan keadaan supaya dirinya tetap kelihatan benar. Pilihan kedua inilah yang manipulatif, karena yang dipakai bukan kejujuran, tapi cara membuat orang lain meragukan perasaannya sendiri.
Yang paling berbahaya dari pola begini, korbannya pelan-pelan percaya bahwa dirinya memang bermasalah. Mulai berpikir, "mungkin aku yang terlalu sensitif," padahal rasa sakitnya nyata dan punya sebab yang jelas.
Jadi kalau kamu pernah ada di posisi itu, ingat bahwa perasaanmu valid. Nggak apa-apa terluka, nggak apa-apa bereaksi. Dan kalau suatu hari kamu yang menyakiti orang lain, jangan balik menyalahkan mereka. Cukup akui, minta maaf, dan belajar dari situ. Itu yang namanya adab.
Brahim retweeted
प्यारी आइसक्रीम
Ada orang yang pernah menyakitimu, lalu waktu kamu terlihat sedih, marah, atau menjauh, dia malah bilang, "kok kamu jadi aneh sih?" atau "aku nggak ngapa-ngapain, kamu aja yang baper." Seolah-olah reaksimu yang jadi sumber masalahnya, bukan perbuatannya.
Padahal reaksi itu hanya akibat. Kalau seseorang terluka, wajar dia menangis, kecewa, atau berubah sikap. Itu cara manusia merespons rasa sakit. Menyalahkan orang yang terluka karena reaksinya sama saja dengan memukul seseorang lalu protes kenapa dia meringis.
Menyakiti orang lain memang bisa terjadi, entah sengaja atau nggak. Manusia bisa khilaf. Tapi setelah itu ada pilihan: mengakui dan memperbaiki, atau memutarbalikkan keadaan supaya dirinya tetap kelihatan benar. Pilihan kedua inilah yang manipulatif, karena yang dipakai bukan kejujuran, tapi cara membuat orang lain meragukan perasaannya sendiri.
Yang paling berbahaya dari pola begini, korbannya pelan-pelan percaya bahwa dirinya memang bermasalah. Mulai berpikir, "mungkin aku yang terlalu sensitif," padahal rasa sakitnya nyata dan punya sebab yang jelas.
Jadi kalau kamu pernah ada di posisi itu, ingat bahwa perasaanmu valid. Nggak apa-apa terluka, nggak apa-apa bereaksi. Dan kalau suatu hari kamu yang menyakiti orang lain, jangan balik menyalahkan mereka. Cukup akui, minta maaf, dan belajar dari situ. Itu yang namanya adab.
Fun play with best friends
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
Brahim retweeted
You can feel it
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.






