SATISFYING
Ada satu jenis sakit yang rasanya beda dari yang lain. Bukan sakit saat semuanya memang lagi buruk, tapi saat kita sudah mulai bernapas lega, mulai percaya bahwa yang berat sudah lewat, lalu tiba-tiba kita balik lagi ke titik yang sama.
Padahal selama masa tenang itu, kita sudah berusaha banyak. Belajar menerima, belajar melepas, belajar menata hati sedikit demi sedikit. Kita sempat berpikir, "mungkin akhirnya aku sudah baik-baik saja." Dan di saat harapan itu mulai tumbuh, kenyataan datang lagi dengan cerita yang sama.
Yang bikin nyesek, rasanya seperti semua usaha kemarin jadi sia-sia. Kita mulai bertanya-tanya, "apa selama ini aku cuma jalan di tempat?" atau "kenapa harus terulang lagi?" Lelahnya dua kali lipat, karena kita harus merasakan sakit itu lagi sambil menghadapi kecewa pada diri sendiri.
Tapi coba lihat dengan cara lain. Kembali ke situasi yang sama bukan berarti kamu mundur ke nol. Kamu yang sekarang sudah bukan kamu yang dulu. Kamu sudah lebih paham, lebih tahu batas, dan lebih kenal apa yang bikin hatimu jatuh. Masa tenang kemarin juga bukti bahwa kamu bisa membaik, jadi kamu pasti bisa melewatinya lagi.
Proses sembuh memang jarang lurus. Kadang maju, kadang mundur, kadang berputar di tempat yang sama. Itu nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak berhenti dan nggak menyalahkan dirimu terlalu keras.
Jadi kalau hari ini rasanya berat karena semuanya terulang lagi, izinkan dirimu lelah sebentar. Tapi jangan lupa, kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya, dan kamu bisa melakukannya lagi.
So much waste just for perfection looks
Ada satu jenis sakit yang rasanya beda dari yang lain. Bukan sakit saat semuanya memang lagi buruk, tapi saat kita sudah mulai bernapas lega, mulai percaya bahwa yang berat sudah lewat, lalu tiba-tiba kita balik lagi ke titik yang sama.
Padahal selama masa tenang itu, kita sudah berusaha banyak. Belajar menerima, belajar melepas, belajar menata hati sedikit demi sedikit. Kita sempat berpikir, "mungkin akhirnya aku sudah baik-baik saja." Dan di saat harapan itu mulai tumbuh, kenyataan datang lagi dengan cerita yang sama.
Yang bikin nyesek, rasanya seperti semua usaha kemarin jadi sia-sia. Kita mulai bertanya-tanya, "apa selama ini aku cuma jalan di tempat?" atau "kenapa harus terulang lagi?" Lelahnya dua kali lipat, karena kita harus merasakan sakit itu lagi sambil menghadapi kecewa pada diri sendiri.
Tapi coba lihat dengan cara lain. Kembali ke situasi yang sama bukan berarti kamu mundur ke nol. Kamu yang sekarang sudah bukan kamu yang dulu. Kamu sudah lebih paham, lebih tahu batas, dan lebih kenal apa yang bikin hatimu jatuh. Masa tenang kemarin juga bukti bahwa kamu bisa membaik, jadi kamu pasti bisa melewatinya lagi.
Proses sembuh memang jarang lurus. Kadang maju, kadang mundur, kadang berputar di tempat yang sama. Itu nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak berhenti dan nggak menyalahkan dirimu terlalu keras.
Jadi kalau hari ini rasanya berat karena semuanya terulang lagi, izinkan dirimu lelah sebentar. Tapi jangan lupa, kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya, dan kamu bisa melakukannya lagi.
Making heart shape cookie easier with this cookie hack
Ada satu jenis sakit yang rasanya beda dari yang lain. Bukan sakit saat semuanya memang lagi buruk, tapi saat kita sudah mulai bernapas lega, mulai percaya bahwa yang berat sudah lewat, lalu tiba-tiba kita balik lagi ke titik yang sama.
Padahal selama masa tenang itu, kita sudah berusaha banyak. Belajar menerima, belajar melepas, belajar menata hati sedikit demi sedikit. Kita sempat berpikir, "mungkin akhirnya aku sudah baik-baik saja." Dan di saat harapan itu mulai tumbuh, kenyataan datang lagi dengan cerita yang sama.
Yang bikin nyesek, rasanya seperti semua usaha kemarin jadi sia-sia. Kita mulai bertanya-tanya, "apa selama ini aku cuma jalan di tempat?" atau "kenapa harus terulang lagi?" Lelahnya dua kali lipat, karena kita harus merasakan sakit itu lagi sambil menghadapi kecewa pada diri sendiri.
Tapi coba lihat dengan cara lain. Kembali ke situasi yang sama bukan berarti kamu mundur ke nol. Kamu yang sekarang sudah bukan kamu yang dulu. Kamu sudah lebih paham, lebih tahu batas, dan lebih kenal apa yang bikin hatimu jatuh. Masa tenang kemarin juga bukti bahwa kamu bisa membaik, jadi kamu pasti bisa melewatinya lagi.
Proses sembuh memang jarang lurus. Kadang maju, kadang mundur, kadang berputar di tempat yang sama. Itu nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak berhenti dan nggak menyalahkan dirimu terlalu keras.
Jadi kalau hari ini rasanya berat karena semuanya terulang lagi, izinkan dirimu lelah sebentar. Tapi jangan lupa, kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya, dan kamu bisa melakukannya lagi.
Turning old honeycomb to be glorious masterpiece
Ada satu jenis sakit yang rasanya beda dari yang lain. Bukan sakit saat semuanya memang lagi buruk, tapi saat kita sudah mulai bernapas lega, mulai percaya bahwa yang berat sudah lewat, lalu tiba-tiba kita balik lagi ke titik yang sama.
Padahal selama masa tenang itu, kita sudah berusaha banyak. Belajar menerima, belajar melepas, belajar menata hati sedikit demi sedikit. Kita sempat berpikir, "mungkin akhirnya aku sudah baik-baik saja." Dan di saat harapan itu mulai tumbuh, kenyataan datang lagi dengan cerita yang sama.
Yang bikin nyesek, rasanya seperti semua usaha kemarin jadi sia-sia. Kita mulai bertanya-tanya, "apa selama ini aku cuma jalan di tempat?" atau "kenapa harus terulang lagi?" Lelahnya dua kali lipat, karena kita harus merasakan sakit itu lagi sambil menghadapi kecewa pada diri sendiri.
Tapi coba lihat dengan cara lain. Kembali ke situasi yang sama bukan berarti kamu mundur ke nol. Kamu yang sekarang sudah bukan kamu yang dulu. Kamu sudah lebih paham, lebih tahu batas, dan lebih kenal apa yang bikin hatimu jatuh. Masa tenang kemarin juga bukti bahwa kamu bisa membaik, jadi kamu pasti bisa melewatinya lagi.
Proses sembuh memang jarang lurus. Kadang maju, kadang mundur, kadang berputar di tempat yang sama. Itu nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak berhenti dan nggak menyalahkan dirimu terlalu keras.
Jadi kalau hari ini rasanya berat karena semuanya terulang lagi, izinkan dirimu lelah sebentar. Tapi jangan lupa, kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya, dan kamu bisa melakukannya lagi.
So can these towers survive the ultimate shake test?
Ada fase di hidup ketika kita lelah menjelaskan, lelah bercerita, dan lelah berpura-pura baik-baik saja. Di titik itu, yang kita butuhkan bukan nasihat atau keramaian, tapi ruang untuk diam.
Kadang, healing yang paling jujur itu nggak seindah yang dibayangkan. Bukan liburan, bukan nongkrong, bukan foto estetik yang diunggah ke media sosial. Justru sesederhana menghilang sebentar dari semuanya. Berhenti membalas pesan yang menguras tenaga, berhenti ikut percakapan yang bikin hati makin berat, dan berhenti merasa harus selalu hadir untuk semua orang.
Dalam diam itu, pelan-pelan kita mulai mendengar suara diri sendiri. Kita jadi tahu apa yang sebenarnya melukai, apa yang selama ini dipendam, dan apa yang perlu dilepas. Kita belajar berdamai, bukan dengan melupakan semuanya, tapi dengan menerima bahwa beberapa hal memang sudah terjadi dan nggak bisa diubah.
Lalu ada ibadah, tempat kita menaruh semua beban yang sudah nggak sanggup dibawa sendiri. Bicara dan mengadu pada Tuhan sering kali memberi tenang yang nggak bisa diberikan manusia mana pun. Dan tidur, hal yang kelihatannya sepele, ternyata bisa jadi obat yang bikin hati dan pikiran punya kesempatan untuk pulih.
Jadi kalau sekarang kamu memilih diam dan menjauh sejenak, itu bukan berarti kamu lari dari masalah. Kamu sedang menyembuhkan diri dengan caramu sendiri. Pelan-pelan saja, nggak perlu buru-buru, karena luka yang diberi waktu dan ruang akan sembuh pada waktunya.
I salute you, i will cried and scream and whatever.
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.
Wow look how far thats will fly
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.
So why always 6?
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.
I know its dream job all over universe.
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.
Is it just me, or do public announcements at airports and train stations sound the same everywhere?
Suka ubi ungu nggak guys? Sekalian cerita ah, dulu kita sering mengira orang-orang yang ada di sekitar kita akan selalu ada. Sahabat yang tiap hari cerita, pasangan yang janji nggak akan pergi, keluarga yang selalu jadi tempat pulang. Rasanya mereka bakal terus di sisi kita sampai kapan pun.
Tapi hidup punya caranya sendiri. Ada yang pergi karena jarak, ada yang berubah karena waktu, ada yang menghilang pelan-pelan tanpa pamit, dan ada juga yang pergi karena memang sudah waktunya. Bukan selalu karena ada yang salah. Kadang jalan hidup kita memang cuma bersinggungan sebentar.
Dan itu menyakitkan, apalagi kalau kita sudah telanjur bergantung. Saat orang yang biasanya jadi sandaran tiba-tiba nggak ada, dunia terasa kosong. Kita jadi sadar, ternyata selama ini kita terlalu menyerahkan kekuatan kita ke orang lain.
Makanya, belajar bertahan sendiri itu penting. Bukan berarti harus menutup diri atau berhenti percaya sama siapa pun. Kita tetap boleh sayang, tetap boleh dekat. Tapi jangan sampai kebahagiaan dan ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kehadiran seseorang. Kita perlu punya pegangan yang nggak bisa diambil siapa pun: diri sendiri.
Belajar menenangkan hati sendiri, belajar menyelesaikan masalah sendiri, belajar bahagia tanpa harus ditemani. Awalnya sepi, tapi lama-lama kita jadi lebih kuat dari yang kita kira.
Jadi nikmati orang-orang yang ada hari ini selagi mereka masih di sini. Tapi kalau suatu hari mereka pergi, kamu akan baik-baik saja, karena kamu sudah belajar berdiri di kakimu sendiri.

