Pinned Tweet
ketika orang ngomong "salah satu kesalahan terbesar gw tinggal di Indonesia "
kalau ini pulau bisa ngomong "tanpa kalian ini pulau bakal tetep cantik dengan ekosistem fauna dan flora nya yang saling memiliki dengan sedikit twist peradaban jaman dahulu yang mati terkubur"
Arsya retweeted
Sering nemu konten yang "Claude banget", lalu kamu skip karena udah jenuh?
Begitulah cara kerja TREND CONTENT CYCLE.
Trend konten biasanya melewati beberapa fase:
Muncul sebagai sesuatu yang baru, mulai ditiru banyak orang, mencapai puncak popularitas, lalu perlahan kehilangan daya tarik karena audiens mulai jenuh.
Coba lihat pola konten di Instagram.
Dulu, carousel edukasi jadi primadona. Banyak kreator berlomba membagikan tips, tutorial, dan insight dalam bentuk slide.
Lalu, format ini mulai terasa repetitif. Konten video dengan pendekatan personal branding mulai mengambil perhatian.
Setelah itu, muncul tren raw vlog yang lebih spontan, natural, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sekarang, kita melihat fenomena serupa pada konten motion video ala Claude.
Awalnya terasa fresh. Visualnya menarik, penyampaiannya unik, dan punya daya tarik tersendiri.
Namun, ketika semakin banyak kreator menggunakan format yang sama, audiens mulai terbiasa. Sesuatu yang awalnya menarik perlahan menjadi mudah ditebak.
Pada titik ini, kontennya mungkin masih bagus. Hanya saja, efek kebaruannya mulai berkurang.
Dan ketika efek kebaruan menghilang, perhatian audiens bisa berpindah ke format lain yang terasa lebih segar.
Siklus ini akan terus berulang.
New - Popular - Saturated - Declining - New Trend.
Lalu, apa yang bisa dipelajari dari fenomena ini?
Jangan cuma ikut trend ketika semua orang sudah menggunakannya. Pelajari juga kenapa tren itu menarik perhatian audiens sejak awal.
Apakah karena formatnya? Visualnya? Cara bercerita? Atau karena memberikan pengalaman yang berbeda?
Karena ketika sebuah format mulai jenuh, kamu masih bisa mempertahankan daya tariknya lewat pendekatan yang berbeda.
Trend konten akan terus berganti. Kemampuan memahami audienslah yang membuat kontenmu tetap relevan 😊
Arsya retweeted
I found a way to turn the Day One Films format into an AI-powered production system.
This channel has only 15 videos and is already doing millions of views.
The formula:
→ Simple animated character
→ Discipline / self-improvement stories
→ Dark cinematic visuals
→ Short 2–4 minute films
→ Huge text-driven thumbnails
→ One powerful idea per video
→ Emotional storytelling + transformation
And you can automate almost the entire workflow with Claude Code.
Give Claude Code one prompt and make it:
→ Research Day One Films
→ Analyze their top-performing videos
→ Study their storytelling + visual style
→ Identify winning topics
→ Write an original script
→ Create the character + animation system
→ Generate voiceover
→ Sync narration with scenes
→ Render the entire video
→ Generate thumbnail concepts
→ Create titles + description
The key:
Copy the FORMAT.
Not the characters, stories or assets.
Build your own character, your own stories and your own visual identity around the same underlying content structure.
That’s how you turn a viral format into a repeatable faceless channel system.
DM “AI” and I’ll send you the full Claude Code prompt.
Arsya retweeted
Justru saya suka ambil kesempatan dalam situasi seperti ini wkwk.
Disaat orang2 melakukan A, saya B.
Peluang saya menjadi semakin besar untuk dapet perhatian, tinggal create dan tunggu.
Dibanding harus bertarung dengan banyak org untuk dapet perhatian.
Sering nemu konten yang "Claude banget", lalu kamu skip karena udah jenuh?
Begitulah cara kerja TREND CONTENT CYCLE.
Trend konten biasanya melewati beberapa fase:
Muncul sebagai sesuatu yang baru, mulai ditiru banyak orang, mencapai puncak popularitas, lalu perlahan kehilangan daya tarik karena audiens mulai jenuh.
Coba lihat pola konten di Instagram.
Dulu, carousel edukasi jadi primadona. Banyak kreator berlomba membagikan tips, tutorial, dan insight dalam bentuk slide.
Lalu, format ini mulai terasa repetitif. Konten video dengan pendekatan personal branding mulai mengambil perhatian.
Setelah itu, muncul tren raw vlog yang lebih spontan, natural, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sekarang, kita melihat fenomena serupa pada konten motion video ala Claude.
Awalnya terasa fresh. Visualnya menarik, penyampaiannya unik, dan punya daya tarik tersendiri.
Namun, ketika semakin banyak kreator menggunakan format yang sama, audiens mulai terbiasa. Sesuatu yang awalnya menarik perlahan menjadi mudah ditebak.
Pada titik ini, kontennya mungkin masih bagus. Hanya saja, efek kebaruannya mulai berkurang.
Dan ketika efek kebaruan menghilang, perhatian audiens bisa berpindah ke format lain yang terasa lebih segar.
Siklus ini akan terus berulang.
New - Popular - Saturated - Declining - New Trend.
Lalu, apa yang bisa dipelajari dari fenomena ini?
Jangan cuma ikut trend ketika semua orang sudah menggunakannya. Pelajari juga kenapa tren itu menarik perhatian audiens sejak awal.
Apakah karena formatnya? Visualnya? Cara bercerita? Atau karena memberikan pengalaman yang berbeda?
Karena ketika sebuah format mulai jenuh, kamu masih bisa mempertahankan daya tariknya lewat pendekatan yang berbeda.
Trend konten akan terus berganti. Kemampuan memahami audienslah yang membuat kontenmu tetap relevan 😊
Arsya retweeted
No gatekeep.
- Website yang gue pake buat dapet gaji standard US tapi bisa kerja remote dari Jogja: hiring.cafe
- Website buat cari klien AI video dari US/Europe: contra.com
- Website buat jari project clipping/UGC (dapet duit dari impression post di Sosmed): contentrewards.com
Fokus cari kerja/project di 3 website ini dapet IDR 40juta/bulan sangat sangat realistis
Getting early access to @LebrelAI: private, uncensored AI through chat and API.
Join with my invite link: early.lebrel.ai/r/EPF92X nitter.cf/LebrelAI/status/211222…
The Lebrel waitlist is live.
We’re building private, uncensored AI for researchers, developers, and creators who want more freedom and control.
Private beta is coming soon.
Join the waitlist: early.lebrel.ai/
I have 13 followers and my mom is 60% of my engagement, but @RallyOnChain’s AI doesn’t care. It scores content quality, not follower count, and pays on-chain. Finally, a marketing protocol where my overthinking tweets might actually earn something. app.rally.fun
Arsya retweeted
workflow-nya sama kayak yg di artikel gue cuma ga pake b-roll, jadi langsung code to animation ya
nitter.cf/hanifproduktif/status/…
Arsya retweeted
Gue punya banyak akun faceless yg mirip kayak gini.
Bikin pake Claude cost-nya sekitar IDR 100rb - 150ribu per video (Include Elevenlabs juga buat voice)
Ini cost-nya termasuk murah karena gue pake Opus 5.5 buat nge-plan dan yg eksekusi Sonnet 5.5 + Haiku 5.5 (buat task yg mechanical dan ga perlu mikir), Kalo full Opus bakalan jebol.
Full code to video ya ga pake video gen model.
Sekarang gue lagi testing pake Kimi 3.1 Pro bisa push cost-nya cuma sekitar 30ribuan per video dengan output yang mirip :)
Asli ini menurut gue ga bakal lama dan bakalan dinerf ama Meta wkwk. Kalo mau bikin konten ginian langsung gaskan dari sekarang buat farming followers/audience.
GILA! Akun edukasi Indonesia ini bener-bener MASTERCLASS organic growth 🔥
> 55,3K followers
> Cuma 12 postingan
> 9,7 juta, 4,6 juta, 2,2 juta views di satu video
> Semua ini dalam 5 HARI DOANG!
Dan kontennya cuma animasi 3D yang ngejelasin cara kerja benda-benda di sekitar kita.
Bahkan video tentang SEPTIC TANK bisa tembus 9,7 JUTA views 💀
Kenapa bisa seviral ini?
> Setiap video dibuka dengan pertanyaan yang mungkin nggak pernah kepikiran sama kita
> "Kenapa septic tank nggak pernah penuh?"
> "Kenapa pipa kloset sengaja dibikin melengkung?"
> Animasi 3D bikin topik rumit jadi gampang banget dipahami
> Topiknya relate sama kehidupan sehari-hari, jadi audiensnya luas banget
> Curiosity gap bikin orang penasaran dan berhenti scrolling
> Visual dan format yang konsisten bikin kontennya gampang dikenali
Mereka nggak perlu ikut tren, bikin drama, atau konten kontroversial.
Cuma ngambil pertanyaan SEPELE yang sering kita abaikan, terus diubah jadi konten edukasi yang bikin nagih.
Rasa penasaran + visual storytelling + penjelasan simpel = JUTAAN VIEWS.
Ternyata nggak harus bikin konten yang ribet buat viral.
Tapi penasaran kena berapa costnya ya buat di @higgsfield_ai ginian
Arsya retweeted
Something is digging under the town ⛏️
Minehood is coming. Dig six mines. Break six bosses. Keep every gem you swing for 💎
The waitlist is open 👀
Connect your X, drop your wallet, complete the tasks, and climb the leaderboard 🏆
👉 minehood.io
My SmartX trader type: “The Risk Monk.”
“They study how to double once. You study how to stay in the game.”
Find yours in 6 questions. Join the waitlist for up to 50% off fees and a share of 10,000 USDT in rewards.
smartx.io/waitlist/?invite=w…
Arsya retweeted
Drop your EVM wallet...
and complete 2 simple tasks on our website to be part of the WL mint phase:
fuds-wl.netlify.app/
209 Free GTD spots (random raffle for all WL applicants) + 7 Hidden 1/1 Legendary NFTs w/ $100 bounty on each are waiting.
FUD it on Robinhood.
Arsya retweeted
Meet Moolies.🦉
Introducing @MooliesHQ - a world where simplicity meets personality, and every little detail has a story to tell.
Get early access: moolies.xyz
Be part of the story from the beginning.
Arsya retweeted
LiteForge Cruise is LIVE on Sweep!
sweep.haus/quests/liteforge-…
Your journey into the LiteForge ecosystem starts here.
Complete Quests, Earn Miles, Explore the Forge.
Unlock new opportunities across the LiteForge ecosystem and compete for a share of $1,000 in rewards, alongside projects helping us bring more opportunities to the LiteForge community.
Arsya retweeted
Gw tuh uda bikin panduan buat obrolin apa aja sebelum nikah supaya ga "beli kucing dalam karung"
Intinya komunikasi. Mau anak berapa, mau penghasilan dari mana aja, mau support ortu gimana, dll. Wes pokoknya semua hal harus dijabarkan dari awal, jangan dirahasiakan
Replying to @eDzulfikar
karena banyak yg mendesak dikasih watermark, yowis wkwk gw kasih lah hehehe.
kalau mau versi high resolution, bisa cek link:
Versi PNG bit.ly/FinplanPranikahPNG
Versi PDF bit.ly/FinplanPranikahPDF
selamat merencanakaaan!
Arsya retweeted
Bayangin Elon Musk nyidak karyawan di Starbase kek gini wkwk.
Emang indon ketinggalan 100 tahun kalo ukuran produktivitas masih sebatas orang keliatan sibuk di kantor.
Padahal kalo mau nyidak ya cek aja di dashboard. Lihat unit mana yg targetnya meleset, backlog numpuk, SLA berantakan. Baru turun buat cari tau masalahnya.
Bottleneck-nya di mana? Approval kepanjangan? Beban kerja ga seimbang? Sistemnya lemot? Atau emang orangnya ga perform?
Mau tegas? Kasih kepala unit target yg jelas, wewenang buat beresin masalah, dan deadline. Kalo berkali-kali gagal tanpa perbaikan, ya copot.
Kalo prosesnya rusak terus cuma ganti orang, penggantinya juga bakal punya masalah yg sama.
Arsya retweeted
Buat yang penasaran gimana cara workflow video AI gue bekerja:
1. Gue login Google Flow di browser
2. Gue minta Claude akses Flow di brwoser gue
3. Claude yang ngeprompt gambar dan video, download ke PC gue
4. Claude yang ngedit, motong, dan nyambungin semua videonya jadi 1
Jadi end-to-end Claude yg bikin videonya mulai dari planning, scripting, sampai final editing.
Kenapa pake workflow ini dan ga pake API?
Karena Flow itu paling murah. Gue dapet paket yg 1000 kredit cuma IDR 20ribu. Bisa buat bikin video 600 detik 720p (10 menit footage). Pake akun pribadi, bukan sharing (kalo yg mau bisa DM gue)
Pake API pasti kena lebih mahal. Walaupun lebih efisien karena Claude ga perlu akses ke browser kita.
Di Google Flow: Bisa pilih Omni 1.1 (setara seedance 2.0), ga ada watermark, dan generate image gratis (Nano Banana Pro)
Nah kalo konten lo berbasis gambar kayak video stick-man atau explainer, cost-nya basically zero... karena generate image-nya gratis.
Apa bedanya AI video generation sama programmatic video?
AI video generation itu bikin video dari prompt + reference. Contohnya Seedance, Kling, Omni. Yang keluar klip.
Programmatic video beda. Kita minta AI Agent bikin videonya pake code. Sama kayak dia bikin website atau app, cuma yang keluar video.
Dan secara ga langsung, si agent ini juga jadi editornya. Kita tinggal terima jadi.
Contohnya video di post ini adalah programmatic. Walaupun gue bikinnya pake 1 prompt simpel, yang dia kerjain lumayan kompleks. Isinya:
> 135 sound effect, masing-masing dipasang pas di kata yang diucapin
> 647 layer dan 10.228 keyframe animasi
> 30 potongan footage, masing-masing punya gerak kamera sendiri
> 16 punch-in kamera dan 7 whip transition
> 21 ikon yang digambar pake code (kartu BPJS, ambulans, kuitansi RS, kalender)
> 16 diagram alur
> 103 caption yang sinkron ke 354 kata voice over
Durasi video 2 menit 34 detik, render-nya cuma 32 detik di laptop
Nah, secara cost juga jauh lebih murah. Bikin video 2 menit 30 detik pake Seedance 2.5 1080p di Higgsfield (Max plan) butuh 1.800 kredit. Itu sekitar Rp1,3 juta (dan itu kalau sekali generate langsung jadi, which is ga mungkin wkwk)
Pake cara ini cuma habis sekitar Rp12 ribu: footage Rp5.400, voice over Rp7 ribu, editing sama render Rp0 karena jalan di laptop.
Use case-nya beda ya. Programmatic ga bisa bikin film cinematic atau dracin. Lebih cocok untuk video edukasi/tutorial/product launch
Arsya retweeted
35.8万订阅,最高一条3300万播放!
这个YouTube频道叫 Backyard Resin
它把一块开裂、残缺或者形状不规则的旧木料,经过切割、填充和打磨,变成一张表面像镜子一样的定制桌子。
这个账号的变现路径非常直接。
主页挂着品牌官网和Linktree,观众看完视频后可以直接申请定制报价。流量不只是用来赚平台播放收益,更重要的是持续为高客单价的定制桌子带来客户。
频道目前平均每周更新约两条。
每条视频通常都从挑选木料开始。工人先切掉腐烂部分,再把木板放进模具,加入彩色或透明材料填满缝隙,随后进行脱模、切割、打磨和抛光,最后装上桌腿展示成品。
每期只需要更换木料形状、桌子款式和填充元素,内容顺序基本不动:展示旧木料、处理表面、倒入材料、等待成型、打磨抛光、展示成品。
河流、海洋、咖啡豆、石头、星空和不同颜色,都能放进同一套木桌改造结构里。
原账号拍的是真实制作过程,我们可以用AI复刻这种前后变化。
我们先让Grok生成木桌选题,再用ChatGPT拆成连续的图片和视频提示词。接着用Nano Banana 2做出旧木料、填充材料和成品桌面的画面,再交给Grok Imagine生成切割、浇筑、打磨和展示成品的动画。
最后把所有片段放进CapCut,按照制作顺序拼接,再加入工具声和音乐,一条AI木桌改造视频就完成了。
如果这种爆款账号拆解对你有帮助,可以点个关注。
后面我会继续分享更多爆款账号案例和实用的AI工具项目!






























