Mpitt retweeted
Pertanyaan yang diajukan dalam survei Sakernas dan digunakan BPS sebagai dasar untuk menentukan apakah seseorang tergolong bekerja atau tidak:
1. Dalam seminggu terakhir, apakah (NAMA) bekerja untuk memperoleh bayaran/upah/gaji yang dilakukan paling sedikit satu jam?
Contoh: PNS, pegawai swasta, buruh pabrik, penjaga toko, kasir, buruh tani, kuli angkut barang, dan lain-lain.
2. Dalam seminggu terakhir, apakah (NAMA) menjalankan usaha, bertani atau melakukan kegiatan lainnya untuk memperoleh keuntungan/pendapatan yang dilakukan paling sedikit satu jam?
Contoh: ojek online, membuat barang untuk dijual, bercocok tanam untuk dijual, membeli dan menjual kembali barang, menyediakan jasa, memelihara hewan atau menangkap ikan untuk dijual, dan lain-lain.
3. Dalam seminggu terakhir, apakah (NAMA) membantu kegiatan usaha atau pekerjaan keluarga/kerabat lainnya yang dilakukan paling sedikit satu jam?
Contoh: membantu orang tua bertani, membantu kerabat jaga warung, atau membantu pekerjaan keluarga/kerabat lainnya.
----
Cukup menjawab "YA" pada salah satu pertanyaan tersebut, maka secara statistik kalian sudah dianggap bekerja dan tidak dihitung sebagai pengangguran.
Dari daftar pertanyaan itu yang justru bikin penasaran, sebenarnya 4,75% penduduk yang masih tercatat sebagai pengangguran itu sehari-harinya ngapain aja 😁
Dasar negara open source. Dikit2 minta data konsumen. gak sekalian aja minta nama asli ibu kandung? *ehh
Btw dulu pas anak masih bayi, saya kan kadang beliin sufor mereka (yang amat sangat mahal ituuu), dan SPG-nya selalu minta no hp juga. Saya kasi, tapi ngasal. 😅
Beberapa waktu lalu sayabeli kacamata. Pegawainya meminta identitas sesuai KTP untuk dimasukkan ke sistem mereka. Percakapan pun terjadi. 👇
Me: Nggak usah, Kak.
Dia: Nggak apa-apa, Kak. Cuma nama dan alamat sesuai KTP, beserta nomor HP.
Me: Nggak usah
Dia: Memangnya kenapa? Cuma nama, Kak.
Me: Memangnya nggak bisa beli kalau nggak input data? Kalau begitu saya batalkan saja.
Dia: (Diam sejenak) Saya isi bebas saja ya? Nomor HP saja kalau begitu, Kak.
Me: Nggak usah. Kalau memang nggak bisa beli tanpa data, saya batalkan.
Kemudian temannya datang dan mengarahkan temannya mengisi data.
Bukannya gimana ya. Saya tidak tahu bagaimana data tersebut disimpan, siapa yang bisa mengaksesnya, dan untuk kepentingan apa nantinya digunakan.
banyak toko di mall, pelanggan sering diminta memberikan nomor HP saat berbelanja. Bahkan beberapa kafe juga menerapkan hal serupa. Saya selalu menolak.
Bagi saya, membeli barang seharusnya tidak otomatis berarti menyerahkan data pribadi. Konsumen berhak tahu untuk apa data mereka dikumpulkan dan bagaimana data tersebut dilindungi
Mpitt retweeted
Tahun 2026 udah bukan saatnya untuk condong ke wowo atau condong ke wiwi.
Kita udah tahu keduanya adalah villain. Jangan mau dibodoh-bodohi seperti tahun 2014 dan 2019 ketika kita dituntut untuk memilih salah satu. Kita sekarang punya opsi untuk tidak memilih keduanya. 😭🙏
eh sumpah ya makin banyak yang buat narasi seolah prabowo korban. @prabowo sekalipun lu dikhianati, lu bukan korban. mau lu ditikam dari segala sisi pun nggak menutup fakta kalau lu nggak kompeten mimpin negara. lu udah gagal sebagai presiden.
Mpitt retweeted
Minyak 2 liter: Rp44.500
Telur (non-omega): Rp27.500/kg
Ayam 1 kg: Rp42.000
Beras 5 kg: Rp88.000–95.000 (ke atas)
Gila sih. UMR-nya ya segini-segini aja, tapi harga bahan pangan udah gak masuk akal.
Nanti kalo ada yang protes, pasti ada aja yang bilang “ya jangan mewah-mewah belinya, ada yang lebih murah kok”. Lahhh??? Kita juga berhak makan nasi yang pulen dan makan protein yang layak, bray…
Mpitt retweeted
Beberapa waktu lalu sayabeli kacamata. Pegawainya meminta identitas sesuai KTP untuk dimasukkan ke sistem mereka. Percakapan pun terjadi. 👇
Me: Nggak usah, Kak.
Dia: Nggak apa-apa, Kak. Cuma nama dan alamat sesuai KTP, beserta nomor HP.
Me: Nggak usah
Dia: Memangnya kenapa? Cuma nama, Kak.
Me: Memangnya nggak bisa beli kalau nggak input data? Kalau begitu saya batalkan saja.
Dia: (Diam sejenak) Saya isi bebas saja ya? Nomor HP saja kalau begitu, Kak.
Me: Nggak usah. Kalau memang nggak bisa beli tanpa data, saya batalkan.
Kemudian temannya datang dan mengarahkan temannya mengisi data.
Bukannya gimana ya. Saya tidak tahu bagaimana data tersebut disimpan, siapa yang bisa mengaksesnya, dan untuk kepentingan apa nantinya digunakan.
banyak toko di mall, pelanggan sering diminta memberikan nomor HP saat berbelanja. Bahkan beberapa kafe juga menerapkan hal serupa. Saya selalu menolak.
Bagi saya, membeli barang seharusnya tidak otomatis berarti menyerahkan data pribadi. Konsumen berhak tahu untuk apa data mereka dikumpulkan dan bagaimana data tersebut dilindungi
Mpitt retweeted
Pernah sepulang sekolah,masih di jalan, bocil mulai curhat.
B: "Ma, tadi ulangan matematika aku dapat nilai 0"
Aku langsung ketawa denger curhatnya.
B: "Kok mama enggak marah sih? "
Me: "Lha buat apa marah, kalau dapat nilai 0, artinya belum paham, harus berani tanya sama bu guru, sampai paham. "
B: "Tapi temen-temen kalau dapat nilai jelek pasti dimarahin ibunya, dihukum gak boleh main"
Tambah ketawalah aku.
B: "Beneran mama gak marah? " tanyaya sambil takut-takut.
Me: "Gak penting buat mama, yang penting kamu jadi anak sholeh, itu udah cukup buat mama"
Kerjaan mamak2 itu di akhir bulan selalu minta setoran hasil ulangan anak.
Adem kalau liat beginian.
Ada yg bilang kalau kecerdasan anak menurun dari ibunya , bener ga bolo?
Aku sih ga merasa pinter soalnya dulu waktu sekolah selalu ada di peringkat 1-5, saking aja bukan orang kaya jadi ya masih pengangguran sampe saat ini.
Santuy malam bolo
Mpitt retweeted
Tantenya suami kalo belanja COD, tiap dia pergi, suka ga nitipin uang utk paket. Diingetin tp blgnya ga ada paket. Org kurir udah hafal bgt sama kelakuan tante ini. Td pas aku blg orgnya ga ada, dia sampe kesel dan jambak rambut. Aku pernah bayarin barang dia 400rb, ga diganti.
Mpitt retweeted
Ini yang disebut Hidden Cost of Living atau Biaya Ekonomi Tinggi yang Dipindahkan ke Rakyat.
Di negara dengan layanan publik yang bekerja, gaji adalah untuk hidup. Di kita, gaji adalah untuk bertahan + menambal.
Mari kita bedah:
1. Gajimu Bukan untuk Konsumsi, Tapi untuk Substitusi Negara
Di ekonomi yang sehat, ada yang namanya public goods - barang publik yang harusnya murah atau gratis karena sudah dibayar pajak: air bersih, keamanan, pendidikan dasar yang kompetitif, transportasi massal, jalan layak, kebersihan.
Ketika barang publik itu bapuk, tidak tersedia, atau sengaja dibiarkan berkualitas rendah, rakyat dipaksa membeli solusinya di pasar swasta dengan harga pasar.
Maka terjadilah:
🅿️ Parkir & ⛔️ Tol = Kegagalan Penyediaan Ruang Publik dan Mobilitas
Parkir liar berbayar adalah pungli atas kegagalan penataan ruang. Tol bukan lagi barang mewah, tapi ongkos paksa untuk mendapatkan kepastian waktu. Macet di jalan non-tol adalah inefisiensi yang biayanya kamu bayar pakai bensin, waktu, dan e-toll.
💧 Air Beli & 🛢 Iuran Sampah = Kegagalan Layanan Dasar Kota
PDAM tidak mengalir layak, air tanah tercemar. Maka setiap KK wajib langganan galon Rp300-500rb/bulan. Itu pajak kedua. Sama dengan sampah. Kita sudah bayar pajak untuk dinas kebersihan, tapi tetap bayar iuran RT/RW Rp50-150rb karena truknya tidak datang.
🏢 Les & 🧸 Daycare = Kegagalan Investasi SDM
Sekolah negeri gratis tapi tidak cukup untuk kompetisi. Maka biaya pendidikan swasta/les itu bukan gaya hidup, itu biaya investasi wajib agar anak tidak terlempar dari rantai mobilitas sosial. Sama dengan daycare. Ketika negara tidak mengatur dan mendorong daycare di kawasan industri/kantor sebagai standar, biaya reproduksi tenaga kerja - menjaga anak agar orang tuanya bisa tetap produktif - dilempar sepenuhnya ke keluarga. Rp1,5 - 3 juta/bulan.
🏨 Asuransi Swasta = Kegagalan Jaminan Sosial yang Layak
BPJS ada, tapi antrean, obat terbatas, kamar penuh. Maka kelas menengah dipaksa beli double protection. BPJS jadi iuran wajib, asuransi swasta jadi iuran untuk bisa hidup. Double cost.
🚋 Mobil Wajib = Kegagalan Transportasi Publik
Ini yang paling mahal. Di kota yang transportasinya terintegrasi, keluarga dengan gaji Rp20 juta tidak butuh mobil. Cukup motor + MRT/Bus. Di Surabaya, Jakarta, karena bus tidak reliable, tidak aman, tidak menjangkau last mile, mobil berubah dari aset menjadi kewajiban struktural. Cicilan 4jt + bensin 1,5jt + servis + asuransi + parkir = 7 jutaan hilang sebelum gaji dipakai.
2. Kenapa Disebut Struktural?
Karena ini bukan salah personal finansialmu yang boros. Ini salah desain.
Upah Terlihat Tinggi, Tapi Daya Beli Riil Rendah. Rp20 juta di Jakarta/Surabaya daya belinya setara mungkin Rp9-10 juta di kota dengan layanan publik bagus. Sisanya habis untuk menambal lubang.
Negara Memungut Pajak, Tapi Tidak Mengembalikan Dalam Bentuk Layanan. Rasio pajak kita rendah, tapi belanja publiknya tidak efisien dan tidak menyentuh hulu masalah kota. Jadi rakyat bayar dua kali: sekali lewat pajak, sekali lagi lewat pasar swasta.
Menciptakan Kemiskinan Baru Kelas Menengah. Kelas menengah kita rapuh. Gaji naik 10%, biaya privat untuk mengganti layanan publik naik 20%. Akhirnya tidak ada akumulasi modal untuk naik kelas - beli rumah layak, investasi, atau usaha. Semua habis untuk biaya bertahan hidup yang disamarkan sebagai "kebutuhan primer".
Bukan gaya hidup. Itu ongkos bertahan hidup di kota yang semua urusannya diswastakan.
Solusi di level individu cuma mitigasi: tinggal dekat tempat kerja/kantor/sekolah untuk memangkas biaya mobilitas paksa, atau sharing daycare dengan tetangga.
Tapi di level sistem, selama air, transport, pendidikan berkualitas, dan kesehatan layak masih dianggap komoditas, bukan hak dasar yang disediakan negara secara bermutu - maka gaji Rp20 juta, Rp30 juta pun akan terus terasa pas-pasan.
Valid! Kenapa gaji Rp20 juta pas-pasan banget. Bahkan gak cukup untuk membangun hidup berkualitas. Bukan soal gaya hidup, tapi hidden cost of living. Biaya hidup tersembunyi. Konsekuensi karena layanan publik bapuk. Tidak tersedia, berkualitas rendah atau memang gagal. Rakyat harus MEMBELI SOLUSI SENDIRI.
Gaji Rp20 juta sebenarnya tergolong tinggi dibanding rata-rata pendapatan di Indonesia. Namun di kota besar yang serba bayar, angka tersebut cepat habis.
🅿️Parkir berbayar diman-mana. Bahkan di tempat yang seharusnya menyediakan fasilitas parkir gratis bagi pengunjung
⛔️Jalan tol jadi pilihan karena terpaksa. Menghindari terjebak macet di jalan non-tol
💧Air bersih harus beli. Ada gak sih yang gak beli air minum sekarang??
🛡Bayar iuran keamanan kompleks
🏢Les sana sini karena kualitas sekolah negeri belum cukup untuk bekal bersaing masuk jenjang berikutnya
🏨Tambah proteksi asuransi swasta walaupun ada BPJS, untuk memperoleh akses yang lebih baik
🚋Karena keterbatasan transportasi umum, keluarga rasanya wajib punya mobil pribadi. Nambah lagi tuh cicilan, BBM, servis, asuransi, dan parkir
🛢Bayar iuran sampah dan kebersihan. Apakabar dinas kebersihan yang digaji dari pajak???
🧸Ortu yang kerja, harus bayar pengasuh atau penitipan anak karena gak ada day care di tempat kerja.
Pak Prabowo silakan melapor ke SAFEnet sebagai korban pelanggaran privasi.
Pak Listyo juga bisa bikin aduan kalau merasa menjadi korban kriminalisasi pasal ilegal akses di UU ITE. 🙏🏼
Pak @prabowo silakan lapor kasus pelanggaran hak digital Anda ke SafeNet.
aduan.safenet.or.id/
Mpitt retweeted
Kok jadi begini negara kita. Kok begini liar politik kita. Sepertinya untuk mendapatkan kekuasaan (political power) cara apapun dibenarkan. Tidak peduli baik atau buruk. Bermoral atau tidak bermoral. Saya khawatir kalau akhirnya rakyat merasa takut dan tidak tenteram hidup di negaranya sendiri.
Sebagai warga bangsa yang sangat mencintai negeri ini, seperti juga warga negara Indonesia yang lain, saya bermohon kepada Presiden Prabowo untuk menghidupkan kembali politik yang berkeadaban. Ini panggilan sejarah. Ini amanah rakyat. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan tuntunan kepada Pak Prabowo untuk menjalankan misi mulia ini.
*SBY*
Bukti ekonomi saya lagi turun ato bahwa saya kurang kerja keras klo kata kaum #stillprabowo itu:
- udh gk bisa langganan yakult. Padahal sebelumnya bisa 5 pack/minggu.
- hunting sekolah yg SPP-nya lbh murah utk TA 27/28. Agak jauh dikit gapapa, saya siap antar jemput.
🥲
#curhat
Mpitt retweeted
Buat toko-toko elitis yang cuma menerima pembayaran non tunai seakan-akan uang cash bukanlah metode pembayaran yang sah....
Kalian semua jahat! 🫵😡
Mpitt retweeted
orang tuaku ada usaha konter pulsa, jual lampu, aksesoris, dll dan tadi ada mbah2 mintol kirim uang ke rekening ini, ak tanya emang kenal sm orangnya? dia jawab ga kenal trs pas ak baca chatnya astaga dia nipu, ak cek di getcontact jg gada tag, akhirnya kubilangin mbahnya-
































