salah satu yang menarik ketika naik MRT adalah TIDAK ADA TEMPAT SAMPAH.
gue kepikiran, siapa yang pertama kali mencetuskan ide liar ini dalam ruang rapat dulu. pasti diserang abis-abisan.
👷♂️: “kita nggak usah sediakan tempat sampah di stasiun.”
👨💼: “mana bisa? ada tempat sampah saja ruang publik masih kotor di mana-mana.”
👷♂️: “kita edukasi rakyat supaya mau bawa pulang sampahnya.”
👨💼: “mana bisa rakyat kita diedukasi kayak gitu?”
DAN TERNYATA BISA.
stasiun MRT super bersih.
sebenarnya, kalau pembuat kebijakan memberikan ruang untuk rakyat beradaptasi, banyak hal baik bisa terjadi.
sesimpel mengedukasi rakyat untuk tidak membawa sampah di ruang publik.
mungkin kita juga bisa mengedukasi wakil rakyat untuk tidak membawa gagasan sampah di ruang rapat.
izin 🙏
ratih retweeted
🚨 KAI Commuter Update 🚨
Mohon maaf atas keterlambatan perjalanan Commuter Line Bogor-Jakarta Kota sehubungan KA 1183 (Bogor-Jakarta Kota) di antara Stasiun Pasar Minggu-Manggarai Tertemper orang. Saat ini dalam penanganan petugas.
Perjalanan Commuter Line saat ini masih menunggu pengecekan rangkaian di Stasiun Tebet.
Kami mengimbau kepada para pengguna untuk mengikuti arahan dan informasi dari petugas di lapangan. Pembaruan informasi diupdate seiring dengan perkembangan di lokasi.
ratih retweeted
Salah satu alasan saya menyukai konsep ibadah Islam adalah siapa pun (laki-laki) boleh menjadi imam (asal bacaan dan hafalannya bagus) dan bisa berdiri di baris mana pun.
Tidak ada kasta hirarkis profesi. Pedagang cilok bisa sejajar dengan bupati sekalipun jika sudah shalat jamaah.
Bahkan pedagang tersebut bisa saja mengimami seorang presiden.
Tidak ada istilah “tempat ini khusus untuk bapak/ibu A, B, C (donatur utama, pejabat, orang penting) seperti di agama sebelah.
Seorang muslim ketika shalat juga melepaskan semua harta bendanya di lantai (hape, tas, dompet dll).
Tidak ada yang dibawa dan dipegang lagi kecuali iman dan takwa.
ratih retweeted
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.















