Pierre Bourdieu dalam Language and Symbolic Power (1991) menjelaskan bagaimana bahasa dapat menjadi instrumen dominasi. Intelektualitas tanpa kesadaran etis hanya menjadikan pengetahuan sebagai legitimasi untuk merendahkan orang lain.
Kritik pembangunan lampung itu sah, gue nggak pernah menafikan ketimpangan antardaerah. Tapi jangan sampai kritik struktural justru berubah menjadi stereotip dan penghinaan terhadap identitas sosialnya.
So basically, lo mau criticize perkembangan kota yang emang belum se-urban Jakarta atau Makassar? It’s okay, gue nggak pernah menyangkal itu. But why drag the people into it? Kenapa jadi ngomongin orang Lampung tengil dan kampungan?





