Pinned Tweet
️ㅤ
Dalam 𝘁𝗶𝘁𝗮𝗵, langkahnya 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮, memahat gema-gema 𝘀𝘂𝗸𝗮𝗰𝗶𝘁𝗮, walau jiwanya berduka di balik sangkar 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻.
️ㅤ
Momen pertamanya di perpustakaan ini mendadak terputar bagai film pendek, ia akan mengingat jelas sketsa wajah yang mungkin suatu saat nanti akan ia temui kembali. Kenangan itu akan jadi goresan pembuka dalam diary masa kuliahnya.
Niatnya menghindari tatapan orang lain malah membuatnya menjadi pusat dari seluruh pengunjung perpustakaan. Sarayu menutup matanya, mengatur napasnya sebelum akhirnya memperbaiki penampilannya dan kembali minta maaf.
Lantas ia memilih sudut paling tersembunyi, Sarayu mulai menata buku-buku yang akan digunakan bersama dengan laptopnya. Ia mulai melupakan kejadian sebelumnya dan terhanyut ke dalam tugasnya. Jemarinya menari di atas abjad-abjad, satu kata, dua kata mulai terangkai.
@lunearthly
Sarayu. retweeted
ㅤㅤㅤ
𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐞𝐧𝐜𝐚𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧, 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.
ㅤ
Mungkin kalian akan menyangka bahwa kisah ini akan seperti kisah telenovela remaja atau novel-novel manis itu, tapi jauh dari kata manis, permintaan tolong Sarayu hanya dihadiahi sebuah tatapan penuh tanda tanya dan alis yang bertaut seakan berkata ‘Apa’.
Sarayu diam, balas menatap dengan penuh tanda tanya, walau akhirnya ia juga bersuara, “Mau minta tolong bantu arahin ke tempat jurnal ekonomi punya angkatan 2010?”
@lunearthly
𝗪𝗵𝗮𝘁𝘀𝗔𝗽𝗽 𝘁𝗼 𝗔𝘆𝗮𝗵 𝗦𝗸𝘆𝗲
@lunearthly
Sarayu
ꪹꪹ Anak-anak ada di rumah Papi Mami.
ꪹꪹ Aku baru selesai meeting, mau lanjut lagi abis ini.
ꪹꪹ Kalau Ko Ryu mau ketemu anak-anak, mampir ke rumah aja.
— 𝙨𝙚𝙣𝙩



