★★★★ retweeted
Replying to @tom_sidq
strategi “mengko nek bar kretone lewat, langsung diayo.” ki padahal raono neng buku gerpolek opomeneh buku sun tzu. gayeng tenan.
★★★★ retweeted
Ono ORMAS ra ngerti...
Ono PUNGLI ra ngerti...
Ono KLITIH ra ngerti...
kok iso yo lur...
★★★★ retweeted
Waktu PSS vs Persija, ada banner “Manajemen Bajingan” dan “Silahkan hengkang dari Sleman”
Waktu itu pemegang saham PSS dan pihak klub juga duduk di tribun, BCS sama Sleman Fans melakukan aksi tersebut di depan mata mereka, memaksa pertandingan untuk dihentikan sementara dengan riuhnya flare yang serempak dinyalakan
Suporter sering kali mengambil peran sebagai penyeimbang di luar struktur formal untuk menekan perubahan.
Kekecewaan dan perlawanan Sleman Fans terjadi karena kesalahan berulang yang dilakukan seperti persiapan tim yang lambat dan ga maksimal, rekrutmen pemain yang dinilai asal-asalan, gonta-ganti pelatih, target awal yang ga realistis
Dalam konteks yang lebih luas, pola khayak gini menyerupai bentuk perlawanan rakyat terhadap otoritas yang dianggap ga responsif, hanya saja ruangnya adalah klub sepak bola.
🗣️ : alah tapi kan mereka ini jarang bersuara, sukanya nonton bola aja
Weeitsss, jangan salah. Mereka-mereka ini juga sudah terlatih dan tahan banting dengan tatanan kelola manajemen klub yang amburadul.
Aksinya? Yaa macam macam, mulai dari banner protes di dalam stadion, aksi kolektif untuk bersuara di jalan, sosmed hingga menggruduk kantor manajemen. Saat ini, jika kalian berkunjung ke Sleman, liat saja setiap lampu merah di daerah Sleman (apalagi sepanjang Ringroad) terbentang banner-banner protes di jalanan
Itu merupakan contoh kecil dari aksi kolektif mereka yang membuktikan bahwa kalangan Supporter melakukan organisir dengan baik,
yaa ibaratkan saja perlawanan mereka dengan manajemen yang amburadul itu disamakan tindakannya dengan bersuara ke penguasa, dan bayangkan jika seluruh supporter di negeri ini juga demikian. Menarik, bukan?👌
★★★★ retweeted
Sugeng enjing pinaringan berkah, para Pemuda sudah menyatakan sikap tidak akan lagi tunduk pada tradisi feodal yg mengumpankan rakyatnya sendiri pada kebringasan aparat dan anjing2 premannya. Kini dan esok Perlawanan tidak hanya di linimasa, tapi sudah menjalar di jalanan dan gang2 kampung kotapraja.
Terimakasih kawan2 Pemuda Jogjakarta.
😎🔥
🔵🟢🔴
★★★★ retweeted
DI BAWAH INI SAYA LAMPIRKAN BEBERAPA BUKTI FOOTAGE, BAHWA POLISI MEMANG MEMELIHARA GENTHO SAAT DEMO TANGGAL 28 OKTOBER 2026 DI JOGJAKARTA 🚨 🚨 🚨 ALERTA ALERTA ALERTA DUIT PAJAK YANG KALIAN BAYAR TERNYATA BUAT SEWA GENTHO❗❗ #Jagawargataek
★★★★ retweeted
This should be spread out widely across the globe. Thank you for showing us the true face of this Special Region. Yogyakarta.
★★★★ retweeted
Kota ini seperti sedang menumpahkan segala hal yang terlalu lama dipaksa diam.
Stay safe teman-teman. Rekaman Jogja malam ini hingga pukul 9.30 dan masih berlanjut.
#yogyakarta
★★★★ retweeted
Himbauan: bagi warga-wargi DIY, hindari untuk parkir & memberi tips di lapak yang dijaga ormas terafiliasi dengan Jaga Warga.
★★★★ retweeted
LONG LIVE REVOLUTION, THIS IS OUR PLAYGROUND!
LOVE YA! @Brajamusti_YK @S1H_Slemania @BCSxPSS_1976 @paserbumi @CNF_67
WE LUCKY LIVE IN YK🌻
★★★★ retweeted
🚨 SIAPA YANG SEBENARNYA SUDAH PALING BANYAK MENIKMATI "KEISTIMEWAAN" JOGJA & TANGGUNG JAWAB NYA? MENGUNGKAP REALITA DI BALIK KOTA PELAJAR! 🚨
Di balik romantisnya pariwisata dan predikat Kota Pelajar, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan realita sosiopolitik dan ketimpangan ekonomi yang jarang terungkap. Pernahkah kalian menyadari bahwa wajah tata kelola kota kita makin hari makin semrawut? 🤔🏙️
Realitanya, ruang publik dan pariwisata Jogja banyak dikuasai oleh sistem ekonomi bayangan. Kasus pungutan liar (pungli), parkir "nuthuk" dengan tarif tak masuk akal, hingga maraknya premanisme seolah tumbuh subur. Ironisnya, institusi wakil rakyat di DPRD, instansi pemda dan kepolisian seolah lumpuh tak berdaya. Penegakan hukum kerap terbentur kuatnya budaya ewuh pakewuh, serta jejaring patronase elite lokal, oknum pemda, hingga ormas pembeking yang mengklaim sebagai perpanjangan tangan penguasa. 🛵💸⚖️
Sistem politik DIY dengan dualitas kepemimpinan Sultan sebagai Raja kultural sekaligus Gubernur, memang menjaga stabilitas politik meski penuh intrik dari lawan politik & isu calon suksesi pengganti. Namun, siapa yang menikmati kucuran triliunan Dana Keistimewaan? Nyatanya, porsi terbesar justru terserap ke atas: keluarga keraton, birokrasi, elite pemodal besar, kontraktor proyek, dan mafia ekonomi jalanan. Investor dengan mudah menguasai tata ruang, membangun fasilitas mewah yang hanya bisa dinikmati kelas menengah atas dan pendatang berprivilese. 🏰💰
Lalu gimana nasib warga asli & masyarakat kecil? Mereka menjadi kelompok paling terpinggirkan. Di tengah himpitan UMR/UMP yang terendah di Indonesia, warga lokal terusir oleh gentrifikasi. Generasi muda menjerit tak mampu membeli hunian karena harga tanah meroket akibat spekulasi kapitalis. Sementara itu, mahasiswa & warga yang menyuarakan kritik sering kali dibenturkan dengan blokade ormas reaksioner, menciptakan konflik horizontal yang melukai kohesi sosial. Warga bawah akhirnya dipaksa sekadar "nrimo ing pandum". 📉🥀
Keistimewaan Jogja sedang diuji. Mampukah tata kelola kota berpihak pada warga aslinya, bukan sekadar elite? Bagaimana realita hidup di Jogja yang kamu rasakan hari ini? 🙏
Sc : @barceeelll
★★★★ retweeted
Kota ini seperti sedang menumpahkan segala hal yang terlalu lama dipaksa diam.
Sc: rebungdanbambu
★★★★ retweeted
Sugeng enjing pinaringan berkah, kesalahan @PemkotJogja adalah mematikan dan membatasi akses publik pada CCTV yang dibiayai APBD Kota maupun provinsi, dan lebih fatal lagi jika CCTV Publik dijadikan senjata pengawasan, penargetan dan pembungkaman aspirasi warga. Jadikan CCTV publik alat keselamatan umum, mencegah HOAX dan penggiringan opini sepihak. Akses CCTV pemerintah adalah hak masyarakat !!!
😎🔥
🔴🔵🟢
Kot @PemkotJogja iki tenan CCTV-mu sepanjang malioboro wes dihapus? Anggaranne kominfo dialihke nggo ngopeni gepeng aka hamer po Lik? 🤨
Kapan lagi lihat rakyat Jogja yg biasanya apatis, jadi pada melek begini bahkan menjadi simbol perlawanan🥹 Sejarah menulis, tiap perubahan besar negara ini selalu dimulai dari Kota Jogja.





























