Fairuz, R. 🍉 retweeted
Sedih banget ga pernah liat Islam digunakan sebagai narasi persatuan gini di luar mimbar masjid.
Politisi relijius Indo mainannya masih identitas kayak “saya akan berdayakan pesantren” atau “masjid sebagai pusat peradaban dan pendidikan”.
Gak ada yang bilang “Islam itu adil, setiap pemberi kerja harus memastikan membayar pekerjanya dengan layak sebelum keringat mereka kering. Maka ayo kita buat aturan blabla”
Sedih
Allah Menghadirkan Guru Dalam Berbagai Rupa.
Ingat Awes?
Seorang penjual cilor yang tak sengaja kukenal saat membeli air kelapa muda. Gara-gara aku mau ngudud dan lupa bawa korek.
Hari minggu lalu, dia ke Ndalem Kapitikan. Mau beli 2 batang alpukat untuk ditanam di daerah Dieng. "Ambil aja," kataku, "gak usah bayar."
Memang beberapa minggu ini aku sedang berpikir bagaimana proses penyaringan yang gak merepotkan. "Kalau ada permintaan ekspor ke Vancouver sebanyak 8.000 botol, mosok penyaringannya manual? Kalo mau otomatis, model filternya bagaimana, yang bagus merk apa, harganya berapa?" pikirku. Sebagai orang yang biasanya ngobrol sama tanaman dan gak pernah ngobrol sama saringan, saya jelas mumet.
Setelah mengambil 2 bibit alpukat dan menatanya di tas, kami ngobrol-ngobrol. Tiba2 dia bertanya asalku dari mana. Kujawab: Semarang. Dia cerita kalo pernah menjadi teknisi alat cuci darah di salah satu rumah sakit terkenal di Semarang. Juga cerita kalau pernah diminta setting filter air salah satu perusahaan kosmetik.
Aku kaget. Lalu kuceritakan masalahku padanya. Dia tertawa lalu bilang," Pakai filter ini aja, Pak. Nanti dipasang yang 0,1 mikron. Tapi kalau 01 mikron, mungkin warna larutan yang bapak buat jadi bening lho. Paling nanti tinggal ditambahin pompa kecil."
"Bisa nggak kalo misalkan diganti 0,5 mikron, supaya warna larutannya tetap ada," tanyaku.
"Ya nanti saya riset dulu, Pak. Secara teorinya sih bisa. Coba nanti saya pikirkannya. Sudah, Bapak gak usah mikir yang kayak gitu. Nanti saya aja yang mikir dan membuat. Paling-paling biayanya sekitar 1 jutaan," jawabnya.
Riset, teori, berpikir dan membuat. Hal yang menurutku agak aneh karena keluar dari ucapan Awes yang siang harinya jualan cilor dan pagi harinya menyetorkan irisan2 buah di warung2.
Sungguh, Allah tak pernah kekurangan guru. Dia mendatangkan guru dalam berbagai rupa. Hanya saja, kita sering mengabaikannya karena telanjur menempelkan label di dahinya. Awes - penjual cilor - gak gak tahu apa2.
Sungguh. Engkau Maha Mengatur, Maha Tahu dan Maha Menyelesaikan urusan hamba-Mu, Yaa Allah.
Hanya, hamba ini makhluk yang sering abai atas Kebesaran-Mu. Astaghfirullah.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Ali Syari'ati pernah bilang, salah satu jebakan era modern itu bikin manusia sibuk tapi kosong—terasing dari esensi dirinya sendiri.
Biasa saja. Pak Jokowi punya resource yang cukup untuk berbuat sesuatu.
Lebih banyak lagi adegan yang lebih pantas kita ratapi datang dari warga sipil yang dibogem sama ketidakadilan hukum. Dan mereka tidak bisa apa-apa.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Sebaiknya mulai dibiasakan mamakai frasa "dibiayai oleh pajak" daripada bilang "dibiayai oleh negara".
Orang2 yg dapat benefit dari APBN ini makin songong dan ga tau diri. Sok paling punya duit aja.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Bisa-bisanya staff Kementerian Kebudayaan bikin snap kaya gitu wkkwk.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Tak perlu menunggu empat tahun bagi warga Amerika untuk menghukum incumbent Presiden Trump dan Partai Republik yg mengecewakan. Andai kita punya mekanisme pemilu sela, setiap pemenang pemilu harus bekerja sesuai kehendak warga, tanpa hrs menunggu lima tahun baru bekerja.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Begitu Abdul menang melawan sainganmya Mike Rogers..
apakah dia memuji lawannya? Apakah dia merangkul lawannya untuk kerja bareng-bareng kek di Indo?
TIDAK.
Dia hujat habis2an. Abdul bilang ke Rogers
“Woy tengik, semoga kau terus kalah dan tenggelam”
Tegas. Berprinsip
Karena Rogers menggunakan rasisme dan Islamofobia untuk melawan Abdul. Bukan dengan ide dan gagasan.
Inilah yang harus dipunyai politisi. Tegas dan berprinsip ketika berhadapan dengan nilai-nilai jahat kayak rasisme dan Islamofobia.
U.S. Senate candidate @AbdulElSayed (D-MI) to opponent Mike Rogers (R-MI): "Enjoy your retirement...you chose hate, and Michigan chose hope. May we never have to see the likes of you in this state again."
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Ini yang disebut Hidden Cost of Living atau Biaya Ekonomi Tinggi yang Dipindahkan ke Rakyat.
Di negara dengan layanan publik yang bekerja, gaji adalah untuk hidup. Di kita, gaji adalah untuk bertahan + menambal.
Mari kita bedah:
1. Gajimu Bukan untuk Konsumsi, Tapi untuk Substitusi Negara
Di ekonomi yang sehat, ada yang namanya public goods - barang publik yang harusnya murah atau gratis karena sudah dibayar pajak: air bersih, keamanan, pendidikan dasar yang kompetitif, transportasi massal, jalan layak, kebersihan.
Ketika barang publik itu bapuk, tidak tersedia, atau sengaja dibiarkan berkualitas rendah, rakyat dipaksa membeli solusinya di pasar swasta dengan harga pasar.
Maka terjadilah:
🅿️ Parkir & ⛔️ Tol = Kegagalan Penyediaan Ruang Publik dan Mobilitas
Parkir liar berbayar adalah pungli atas kegagalan penataan ruang. Tol bukan lagi barang mewah, tapi ongkos paksa untuk mendapatkan kepastian waktu. Macet di jalan non-tol adalah inefisiensi yang biayanya kamu bayar pakai bensin, waktu, dan e-toll.
💧 Air Beli & 🛢 Iuran Sampah = Kegagalan Layanan Dasar Kota
PDAM tidak mengalir layak, air tanah tercemar. Maka setiap KK wajib langganan galon Rp300-500rb/bulan. Itu pajak kedua. Sama dengan sampah. Kita sudah bayar pajak untuk dinas kebersihan, tapi tetap bayar iuran RT/RW Rp50-150rb karena truknya tidak datang.
🏢 Les & 🧸 Daycare = Kegagalan Investasi SDM
Sekolah negeri gratis tapi tidak cukup untuk kompetisi. Maka biaya pendidikan swasta/les itu bukan gaya hidup, itu biaya investasi wajib agar anak tidak terlempar dari rantai mobilitas sosial. Sama dengan daycare. Ketika negara tidak mengatur dan mendorong daycare di kawasan industri/kantor sebagai standar, biaya reproduksi tenaga kerja - menjaga anak agar orang tuanya bisa tetap produktif - dilempar sepenuhnya ke keluarga. Rp1,5 - 3 juta/bulan.
🏨 Asuransi Swasta = Kegagalan Jaminan Sosial yang Layak
BPJS ada, tapi antrean, obat terbatas, kamar penuh. Maka kelas menengah dipaksa beli double protection. BPJS jadi iuran wajib, asuransi swasta jadi iuran untuk bisa hidup. Double cost.
🚋 Mobil Wajib = Kegagalan Transportasi Publik
Ini yang paling mahal. Di kota yang transportasinya terintegrasi, keluarga dengan gaji Rp20 juta tidak butuh mobil. Cukup motor + MRT/Bus. Di Surabaya, Jakarta, karena bus tidak reliable, tidak aman, tidak menjangkau last mile, mobil berubah dari aset menjadi kewajiban struktural. Cicilan 4jt + bensin 1,5jt + servis + asuransi + parkir = 7 jutaan hilang sebelum gaji dipakai.
2. Kenapa Disebut Struktural?
Karena ini bukan salah personal finansialmu yang boros. Ini salah desain.
Upah Terlihat Tinggi, Tapi Daya Beli Riil Rendah. Rp20 juta di Jakarta/Surabaya daya belinya setara mungkin Rp9-10 juta di kota dengan layanan publik bagus. Sisanya habis untuk menambal lubang.
Negara Memungut Pajak, Tapi Tidak Mengembalikan Dalam Bentuk Layanan. Rasio pajak kita rendah, tapi belanja publiknya tidak efisien dan tidak menyentuh hulu masalah kota. Jadi rakyat bayar dua kali: sekali lewat pajak, sekali lagi lewat pasar swasta.
Menciptakan Kemiskinan Baru Kelas Menengah. Kelas menengah kita rapuh. Gaji naik 10%, biaya privat untuk mengganti layanan publik naik 20%. Akhirnya tidak ada akumulasi modal untuk naik kelas - beli rumah layak, investasi, atau usaha. Semua habis untuk biaya bertahan hidup yang disamarkan sebagai "kebutuhan primer".
Bukan gaya hidup. Itu ongkos bertahan hidup di kota yang semua urusannya diswastakan.
Solusi di level individu cuma mitigasi: tinggal dekat tempat kerja/kantor/sekolah untuk memangkas biaya mobilitas paksa, atau sharing daycare dengan tetangga.
Tapi di level sistem, selama air, transport, pendidikan berkualitas, dan kesehatan layak masih dianggap komoditas, bukan hak dasar yang disediakan negara secara bermutu - maka gaji Rp20 juta, Rp30 juta pun akan terus terasa pas-pasan.
Valid! Kenapa gaji Rp20 juta pas-pasan banget. Bahkan gak cukup untuk membangun hidup berkualitas. Bukan soal gaya hidup, tapi hidden cost of living. Biaya hidup tersembunyi. Konsekuensi karena layanan publik bapuk. Tidak tersedia, berkualitas rendah atau memang gagal. Rakyat harus MEMBELI SOLUSI SENDIRI.
Gaji Rp20 juta sebenarnya tergolong tinggi dibanding rata-rata pendapatan di Indonesia. Namun di kota besar yang serba bayar, angka tersebut cepat habis.
🅿️Parkir berbayar diman-mana. Bahkan di tempat yang seharusnya menyediakan fasilitas parkir gratis bagi pengunjung
⛔️Jalan tol jadi pilihan karena terpaksa. Menghindari terjebak macet di jalan non-tol
💧Air bersih harus beli. Ada gak sih yang gak beli air minum sekarang??
🛡Bayar iuran keamanan kompleks
🏢Les sana sini karena kualitas sekolah negeri belum cukup untuk bekal bersaing masuk jenjang berikutnya
🏨Tambah proteksi asuransi swasta walaupun ada BPJS, untuk memperoleh akses yang lebih baik
🚋Karena keterbatasan transportasi umum, keluarga rasanya wajib punya mobil pribadi. Nambah lagi tuh cicilan, BBM, servis, asuransi, dan parkir
🛢Bayar iuran sampah dan kebersihan. Apakabar dinas kebersihan yang digaji dari pajak???
🧸Ortu yang kerja, harus bayar pengasuh atau penitipan anak karena gak ada day care di tempat kerja.
Valid! Kenapa gaji Rp20 juta pas-pasan banget. Bahkan gak cukup untuk membangun hidup berkualitas. Bukan soal gaya hidup, tapi hidden cost of living. Biaya hidup tersembunyi. Konsekuensi karena layanan publik bapuk. Tidak tersedia, berkualitas rendah atau memang gagal. Rakyat harus MEMBELI SOLUSI SENDIRI.
Gaji Rp20 juta sebenarnya tergolong tinggi dibanding rata-rata pendapatan di Indonesia. Namun di kota besar yang serba bayar, angka tersebut cepat habis.
🅿️Parkir berbayar diman-mana. Bahkan di tempat yang seharusnya menyediakan fasilitas parkir gratis bagi pengunjung
⛔️Jalan tol jadi pilihan karena terpaksa. Menghindari terjebak macet di jalan non-tol
💧Air bersih harus beli. Ada gak sih yang gak beli air minum sekarang??
🛡Bayar iuran keamanan kompleks
🏢Les sana sini karena kualitas sekolah negeri belum cukup untuk bekal bersaing masuk jenjang berikutnya
🏨Tambah proteksi asuransi swasta walaupun ada BPJS, untuk memperoleh akses yang lebih baik
🚋Karena keterbatasan transportasi umum, keluarga rasanya wajib punya mobil pribadi. Nambah lagi tuh cicilan, BBM, servis, asuransi, dan parkir
🛢Bayar iuran sampah dan kebersihan. Apakabar dinas kebersihan yang digaji dari pajak???
🧸Ortu yang kerja, harus bayar pengasuh atau penitipan anak karena gak ada day care di tempat kerja.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Classmate gw bilang. Poverty tu ketanem sampe mentalitas. Makanya banyak boomers & GenX korup, gila hormat, tasteless (those Chanel bags + outift menor). Trauma response. Unlike us Gen Z yg se-resourceless”ny masi bisa akses sosmed early on utk learn-unlearn, jdi lebih empatetik.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Membaca adalah ancaman. Semakin banyak membaca, semakin banyak bertanya. Semakin banyak bertanya, semakin sulit dibohongi. Semakin tinggi literasi, semakin sulit dikontrol. Jadi mending dikasih makan, soalnya kalo dikasih buku jadi melawan.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Yaap, sesuai dugaan. Gerakan perlawanan akan dimulai dari institusi keagamaan level gereja dan masjid. Mengapa bukan ormas? Karena badannya sudah terlalu tambun dan tertimbun keramahtamahan dg penguasa selama ini.
📢Masjid Jogokariyan Gelar “Mimbar Rakyat” pada 10 November 2026!
Dua tahun pemerintahan baru, Masjid Jogokariyan menyoroti berbagai persoalan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial, hingga krisis ekologi.
Melalui agenda “Mimbar Rakyat”, masyarakat diajak merefleksikan arah bangsa dan menyuarakan tuntutan perubahan dari Yogyakarta.
📅 10 November 2026
📍 Yogyakarta
Fairuz, R. 🍉 retweeted
di thread ada yang nulis begini, "kamu bukan tidak peduli politik, melainkan kamu hanya merasa nyaman dengan KETIDAKADILAN, selama bukan kamu korbannya." 💥
jadi inget, ketidakadilan di suatu tempat sesungguhnya merupakan ancaman bagi terjadinya ketidakadilan di tempat lain.
Fairuz, R. 🍉 retweeted
Jujur, seminggu ini kepikiran dan benar-benar menghantui hidup. Resiko paling kecil adalah harga minyak naik dan berimbas ke seluruh aspek. Apa yang sudah sulit, akan jadi makin sulit. Resiko terbesar adalah kita bisa ikut terseret konflik lewat proxy US di SEA.
Masalah dalam Negeri sudah banyak, ada pula ancaman dari luar.
Orang-orang di sekitar kita ga aware dengan ini. Mereka ga paham kurs dollar, ga paham Brent, ga paham Hormuz, ga paham Multiplier Effect, ga paham Politik/Geopolitik. Mereka taunya hanya kalau sudah berusaha pasti ada rezekinya. Mereka taunya Presiden Indonesia Mantan Komandan Jenderal Kopassus, jadi kalau ada Perang pasti aman-aman aja.
Banyak banget yg mau saya tulis sampai bingung mau mulai dari mana...
La haula wala quwwata illa billah
Indikasi kuat lainnya. Perang US vs Iran ronde kedua.
Udahlah, guys, pantau aja nanti hari Selasa-Jumat.
Semoga Allah selamatkan kita semua.
Aku ga bisa memprediksi seperti apa jalan perangnya. Yang jelas, ini bakal ngerusak ekonomi global, energi global.
Semoga rakyat Iran selamat dan semua negara muslimin dan dunia ketiga selamat.













































