Naruh2 sendiri, giliran ngambil2 sendiri langsung netijen air mata kadal nangis semua.
Heran gw. Bangsa tolol ini gampang banget kegocek?
Kmaren soal prabowo disadap, ditangisin.
Sekarang soal naruh berkas, ditangisin juga.
Trus rakjel disuruh milih dukung dua2nya, lupa isu2 utama?
Ya goblok namanya
Rakyat berhak milih isu mereka sendiri. Jangan lu atur2.
MBG itu bisa jadi kejahatan karena hanya menguntungkan kroni, proses pelaksanaan tidak transparan, maksa semua sekolah nerima MBG, gak ada audit sehingga peracunan 50000 lebih anak, merampas APBN pendidikan dan TKD, intimidasi terhadap korban MBG.
itu kejahatan menurut rakyat.
PocongTerbang ๐ต๐ธ๐บ๐ฆ๐ดโโ ๏ธ๐ฎ๐ฉ retweeted
Replying to @kiissedbypoem @prabowo
PocongTerbang ๐ต๐ธ๐บ๐ฆ๐ดโโ ๏ธ๐ฎ๐ฉ retweeted
Mengingatkan warga agar tidak terjebak narasi false dichotomy, seolah-olah kita hanya punya dua pilihan, yang kemungkinan akan dimainkan para buzzer dalam waktu dekat.
Ingat, keduanya sama-sama busuk, dan kita tidak harus berpihak kepada salah satunya.
PocongTerbang ๐ต๐ธ๐บ๐ฆ๐ดโโ ๏ธ๐ฎ๐ฉ retweeted
NAIKIN BERITA BANJIR ACEH TEMAN TEMAN.
ACEH BELUM PULIH TEMEN TEMEN.
ACEH TERKENA BENCANA LAGIโฆ๐ญ๐
Woi komdegil @kemkomdigi kalian ngapain aja? Iklan judol mulu di hp gw. Jgn pinter ngeblok berita resistansi terhadap pemerintah aja.
PocongTerbang ๐ต๐ธ๐บ๐ฆ๐ดโโ ๏ธ๐ฎ๐ฉ retweeted
Siapa yang Paling Kenyang di Proyek MBG?
Oleh: Bonbon
Di Klaten, ada legenda bernama Pasar Legen. Buatku, tempat itu bukan sekadar pasar loak biasa, melainkan pahlawan tanpa tanda jasa yang menyelamatkan isi dompetku sejak masih berseragam abu-abu putih.
Dulu, pas badai Covid menghantam dan para pejabat sibuk berpidato di televisi soal ekonomi yang nyaris sekarat, aku justru berhasil survive. Resepnya sederhana: jual beli barang seken alias thriftingโbahasa kerennya anak-anak skena yang sok kalcer. Bangun subuh, tancap gas motor menempuh jarak dua puluh kilometer dengan modal uang saku yang utuh gara-gara sekolah daring. Pemerintah menyuruh lockdown, tapi jalan rezeki rakyat jelata justru terbuka lebar di lapak-lapak kumuh.
Waktu itu hukum pasar berjalan sangat sehat. Barang hasil ngawul cukup difoto estetik sedikit, diunggah ke internet, langsung diserbu penawar. Roda ekonomi berputar kencang, pembeli girang, penjual kenyang.
Setelah hampir empat tahun pensiun dini karena sok sibuk mengurusi skripsi dan tetek bengek dunia perkuliahan, hari ini aku memutuskan balik lagi. Niat awalnya murni nostalgiaโmenghirup kembali aroma khas tumpukan baju bekas dan debu jalanan.
Sialnya, Pasar Legen tak lagi sehangat dulu. Kerumunan orang memang masih ada, tapi gerak-gerik mereka beda. Kebanyakan cuma berdiri bengong, menonton layaknya turis kebingungan tanpa niat mengeluarkan sepeser pun uang dari dompet. Harga barang-barang seken mendadak melonjak ugal-ugalanโbukan karena banjir peminat, melainkan cara putus asa para pedagang menutup lubang rugi harian.
Naluriku yang biasanya doyan menawar mendadak beralih profesi jadi wartawan investigasi dadakan. "Nopo sakniki sepi, Lik?" tanyaku iseng ke seorang penjual. Tanpa basa-basi, keluhan seragam meluncur dari bibir mereka: sepi pembeli, dagangan mandek, boro-boro ada transaksi, yang sekadar menawar harga saja bisa dihitung pakai jari sebelah tangan.
Ini anomali gila. Kalau pasar kasta terbawah tempat perputaran uang receh saja sudah megap-megap begini, berarti ada yang sangat busuk di ruang kendali kekuasaan.
Di tengah kepala yang pusing memikirkan misteri ekonomi akar rumput, aku melipir ke warung soto di pinggir jalan Jogja-Solo. Di kawasan Solo Raya, soto seger lima ribuan adalah penyelamat hidup kaum berkantong pas-pasan. Warungnya lengang. Awalnya aku kira wajar karena jam nanggung, bukan jam sarapan apalagi makan siang.
Semangkuk soto panas dan segelas teh tawar mendarat di meja, tapi diantar dengan raut wajah si penjual yang tertekuk lesuโpersis potret orang yang baru saja kehilangan harapan hidup. Pertanyaan yang sama kembali meluncur dari mulutku, dan jawabannya meremukkan hati.
Ibu bakul soto ini rupanya sedang terjepit di antara dua batu karang kebijakan maha agung. Subuh tadi saat kulakan, ia harus adu sikut menghadapi harga telur, ayam, dan tepung yang meroket tajam akibat diborong rantai pasok SPPG yang mulai menjamur. Giliran warungnya buka, meja-meja kursinya kosong melompong. Kenapa? Karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) bikin anak-anak sekolah tak lagi mampir sarapan soto bareng orang tua mereka.
Dari sini aku mulai merenung: kalau anak sekolah cuma kebagian menu seadanya di kotak makan, dan ibu bakul soto ini piringnya dipaksa kering, lantas siapa yang sebenarnya paling kenyang di balik proyek MBG?
Jawabannya jelas bukan rakyat di pinggir jalan. Yang kenyang adalah korporasi raksasa pemasok bahan pokok yang meneken kontrak triliunan tanpa risiko gagal bayar. Yang kenyang adalah para calo tender, broker logistik dapur sentral, dan segelintir elit pemilik akses lisensi yang mendadak jadi bos katering negara. Mereka berpesta pora di atas penderitaan warung-warung kecil yang pelan-pelan dicekik mati modal.
Sotoku tersisa separuh, nafsu makanku menguap seketika digilas cerita pilu di depan mata. Ritual santai menghisap sebatang rokok sambil menyeruput teh hangat mendadak hilang selera. Aku bergegas bayar dan pulang, menelan kenyataan pahit bahwa "keberhasilan" angka-angka di tabel kementerian dibayar kontan dengan air mata pedagang kecil di trotoar.
Belum genap setengah perjalanan pulang, indikator bensin di motorku berkedip panik. Lengkap sudah komedi hari ini. Aku terpaksa menepi ke pom bensin terdekat, bersiap mengantre panjang di bawah terik matahari yang menyengat ubun-ubun demi mendapatkan secuil jatah subsidiโcairan Pertalite yang kian hari statusnya makin menyerupai bantuan sosial yang dipersulit.
Antreannya mengular sampai ke bahu jalan, campur aduk antara knalpot panas, bau aspal sangit, dan dengusan napas orang-orang yang sudah kehilangan sisa-sisa kesabaran. Di depanku, seorang bapak paruh baya penarik ojek pangkalan berkali-kali menatap layar ponsel retaknya yang sepi orderan, sambil menghitung recehan logam di telapak tangan yang gemetar. Di belakangku, seorang ibu menggendong balita yang menangis kejer kegerahan, sementara ia sibuk mengipasinya dengan sobekan kardus bekas.
Setengah jam terjebak dalam barisan keputusasaan itu, giliranku hampir tiba. Tepat dua motor sebelum motorku menyentuh nosel pengisian, petugas berseragam merah memasang plang besi bertuliskan spidol alakadarnya: Pertalite Habis, Sedang Menunggu Pasokan.
Hening sesaat, sebelum akhirnya makian lirih dan desah pasrah serentak membubung ke udara. Tidak ada yang berani mengamuk, tenaganya sudah habis diperas sejak subuh.
Aku terdiam di atas jok, menatap indikator bensin yang kini mati total. Dompet tipis, tangki kosong, perut cuma terisi separuh mangkok soto, dan jarak rumah masih belasan kilometer lagi. Mau beli bensin nonsubsidi uangnya kurang, mau dorong motor ragaku sudah kepalang remuk.
Di titik inilah aku benar-benar paham arti "gizi" dalam kacamata penguasa. Penderitaan rakyat kecil bukan lagi sekadar metafora di buku teori, melainkan rasa haus yang mencekat tenggorokan di tengah antrean bahan bakar yang sia-sia, sementara di layar ponsel, para petinggi negara sibuk memamerkan menu piring gratis di depan kamera.
Aku memang bukan ekonom hebat seperti Ferry Irwandi yang punya basis teori ekonomi sekuat karang dan data serapi etalase. Aku juga jelas tidak sehebat Purbaya yang begitu lihai mengotak-atik neraca keuangan negara lewat angka-angka di atas kertas. Aku cuma seorang pemuda biasaโanak kemarin sore yang kebetulan membaca sinyal krisis bukan dari grafik Bloomberg, melainkan dari denyut nadi Pasar Legen dan mangkok soto yang kian sekarat.
Long live Pasar Legen Jatinom. Lekas sembuh, perekonomian Indonesia. Jangan sampai rakyatnya keburu mati kelaparan sebelum sempat melihat mereka yang kenyang itu insyaf.
Dear President Prabowo,
Thank you for cutting gas exports to Singapore on Saturday, 24 October 2026.
It gave Singaporeans immense pride and joy to know that we have clean and competent leaders who prepared well in advance for such a contingency.
Thank you for motivating our leaders to continue ensuring we have adequate inventories of gas and other resources that we import from Indonesia.
Thank you for compelling us to diversify our sources of supply so that we can uphold our stability and growth.
Thank you for inspiring our government to explore different energy sources that may be more efficient and cleaner, such as geothermal and nuclear energy.
Thank you to your Minister of Energy and Mineral Resources, Bahlil Lahadalia, who threatened on 26 October 2026 that he would โnot hesitate to consider stopping exports to countries that do not respect Indonesia.โ
It has taught us and the rest of the world to be wiser and more vigilant when we do business with and in your country.
Thank you for sacrificing your reputation and the credibility of your nation to show us what we should not do in the global economy and market.
Thank you for demonstrating to us that such a decision can send shivers through other governments, entrepreneurs, and investors.
If Singapore were to act in the same way, it would drive them and their investments from our nation, and it would affect our peace, progress, and prosperity.
Thank you, President Prabowo, for setting a clear example of how not to run a government to create the best future for our people and our country.
It has inspired Singaporeans to become more united and operationally ready to further strengthen our economy and society.
For example, Saudi Arabia plans to store crude oil at Jurong Rock Caverns from the second half of 2027.
We provide them with stability, security, incorruptibility, safety, and predictability.
The storage will contribute to Singapore's energy security and resilience in the event of supply disruptions.
It will also enhance the reliability of Saudi crude oil supplies to the region.
President Prabowo, rest assured that Singapore is a principled, trustworthy, and reliable friend.
Singapore has consistently stood by Indonesia, especially in times of need.
For example, during the recent COVID-19 pandemic, Singapore supported Indonesia across multiple waves of the crisis.
We supplied medical aid, equipment, vaccines, and financial coordination to help protect your people and manage the pandemic.
We will reach out to offer our assistance again because we value the welfare of our neighbours, the long-term health of our bilateral relationship, and regional stability.
We remain committed to good-neighbourliness, constructive cooperation, and mutual respect between our countries.
Terima kasih!
PocongTerbang ๐ต๐ธ๐บ๐ฆ๐ดโโ ๏ธ๐ฎ๐ฉ retweeted
Temen2 yg murah hati. Aku minta tolong banget kalo postingan daganganku lewat minta sedekah like, rt sama replynya ya biar jangkauannya lebih luas dan ketemu pelanggan baru. Kebetulan aku ga gajian dr elon jadi pemasukanku cuma dr dimsum. Aku masih blm nyerah jualan dimsum di era prabonomics ini.
Bantuin aku ya biar daganganku ga gulung tikar krn di real life aku tulang punggung. Umur 36th nyari kerjaan susah banget. Mau banget kalo ada info WO gitu atau kerjaan sampingan yg lain ๐ฅบ๐
Jadi inget perjuangan berat seorang teman yg kerjaannya mendampingi perusahaan2 utk bikin laporan kinerja penanaman modal per 3 bulanan. Ngumpulin USD atau IDR untuk dicatatkan sebagai realisasi investasi sereceh demi sereceh katanya beraaat bgt. Perusahaan PMA/PMDN rata2 mode survival. Belanja kapital jarang bgt untuk perluasan usaha. Sementara target dari BKPM sangat tinggi. Banyak yg hampir kolaps dibantu biar gak tutup, risikonya PHK. Beban ekonomi daerahnya bakal naik klo yg nganggur nambah lagi.
Tapi pusat gak peduli. Tingkah polahnya bikin investor, apalagi teman saya takut setiap prabowo dan gedibalnya bikin statement. Merekalah yg ganggu iklim investasi, katanya. Jauh di atas ormas atau kunjungan liar APH ke perusahaan2. Dia cerita, salah satu perusahaan dgn owner warga jepang sudah gak kuat. Padahal dia dah invest puluhan tahun. Ada juga yg kalah bersaing vs bumn. Usaha mikro yg gak wajib bikin LKPM pun sekarang mulai dipelototin, sukur2 ada yg bisa lapor realisasi investasi biarpun lapornya setahun sekali.
Pendapat?
@great_fleet
@mawasorangutan
@BudiBukanIntel
@PeelotV
IKLIM BISNIS MEMBURUK, PASAR GLOBAL MENJAUH
The Economist edisi terbaru menerbitkan dua laporan tentang Indonesia. Yang pertama tentang popularitas Prabowo di halaman 29-30 dan kedua tentang ekonomi di halaman 64. Saya ingin mengulas artikel kedua yang berjudul "The Archipelago of Broken Dreams" di bagian bisnis. Bagian ini terkait dengan artikel saya sebelumnya "Bilang Tak Gentar Lawan MSCI, Prabowo Nir-Empati" (24 Oktober 2026) yang terbit di akun ini.
Laporan the Economist itu dimulai dengan pernyataan bahwa sekarang ini Palestina dan Ukraina adalah pasar yang nyaris tidak diminati oleh siapa pun. Indonesia, menurut the Economist" punya potensi masuk ke dalam kelompok yang sama dengan dunia negara yang sedang diporak-porandakan perang itu.
Ancaman MSCI menurunkan level pasar Indonesia dari emerging market ke standalone market adalah salah satu penandanya. Menurut lembaga indeks pasar modal itu, pasar saham Indonesia tidak transparan dan marak terjadi pump and dump harga. Akibatnya, para investor sudah berbondong-bondong mengungsi dari pasar saham Indonesia. Dalam setahun terakhir, pasar saham Indonesia kehilangan nyaris separuh nilainya. Majalah ini menunjukkan IHSG sudah jatuh sekitar 38 persen sejak 31 Desember 2025. Ini menjadikan pasar saham Indonesia adalah yang terburuk di dunia tahun ini.
Menurut the Economist, kondisi yang menyedihkan dari bursa saham Indonesia itu hanya cermin dari buruknya kondisi dan iklim berbisnis di Indonesia selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto. Berikut beberapa fakta yang dihimpun the Economist.
Di bawah pemerintahan Prabowo, kroniisme merajalela disertai intervensi pemerintah ke dunia bisnis yang semakin dalam. Ini membuat resah para pelakuk bisnis baik dalam maupun luar negeri. Pada awal tahun ini, Kamar Dagang Tiongkok di Indonesia mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa para anggotanya menghadapi โregulasi yang terlalu ketat, penegakan aturan yang berlebihan, bahkan korupsi dan pemerasanโ oleh pihak-pihak berwenang di Indonesia. Hal yang sama dialami pelaku bisnis dari negara lain di Indonesia.
Majalah ini melihat bahwa salah satu sumber masalahnya adalah orientasi ekonomi Prabowo yang terlalu nasionalistik. Ini semacam pembalikan dari kemajuan ekonomi Indonesia yang sudah dibangun perlahan-lahan sejak krisis finansial 1997-1998. Di masa Joko Widodo, ada figur seperti Luhut Pandjaitan yang dinilai luwes membuka jalan bagi para pebisnis internasional sehingga pasar Indonesia menjadi cukup terbuka dan diminati. Sekarang tidak ada lagi figur seperti itu. Yang ada adalah retorika-retorika permusuhan yang terus muncul dalam pidato-pidato presiden Prabowo.
Pada kuartal terakhir 2024, saat Prabowo mulai berkuasa, investasi asing langsung mencapai US$16 miliar, lebih dari dua kali lipat level empat tahun sebelumnya. Sejak itu angkanya stagnan. Ada ancaman penyitaan dan nasinalisasi perusahaan asing. Ada percobaan nasionalisasi perusahaan Martabe, tambang emas yang dikendalikan Jardine Matheson. Freeport-McMoRan ditekan untuk melepas 12% saham anak usahanya. Ada penertiban besar-besar di sektor kehutanan. Sepertiga lahan kelapa sawit diambil alih. Pada bulan Mei, Prabowo tiba-tiba datang membawa gagasan untuk melakukan sentralisasi ekspor minyak sawit, batu bara, dan feronikel.
Para pengusaha makanan mengeluhkan kualitas garam dalam negeri yang terpaksa mereka pakai karena impor garam dan gula dibatasi dengan dalih swasembada. Pembatasan impor itu juga telah mengganggu rantai pasok bagi Coca-Cola dan PepsiCo, dua perusahaan raksasa minuman yang beroperasi di Indonesia. Pada 18 Oktober, muncul rancangan aturan baru mengenai sertifikasi halal untuk berbagai barang konsumsi, termasuk kosmetik dan suplemen.
Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan multinasional yang menyasar pasar Indonesia menghadapi kondisi perilaku belanja masyarakat yang stagnan. Meskipun pertumbuhan PDB resmi jarang berada di bawah 5%, porsi pekerja kelas menengah di Indonesia (menurut definisi pemerintah) merosot dari 16% satu dekade lalu menjadi 7% tahun lalu.
Bahkan menurut survei terbaru NielsenIQ, hanya 9% konsumen merasa kondisi keuangan mereka lebih baik dibandingkan setahun sebelumnya, turun dari 54% pada 2024. Ini kemudian memukul sejumlah sektor industri seperti penjualan mobil domestik yang angkanya masih di bawah 2019.
Pelbagai persoalan yang disebabkan tata kelola pemerintahan dan bisnis itu yang menjelaskan keterpurukan ekonomi Indonesia sekarang. Jika tidak ada perbaikan yang serius, negara ini benar-benar akan ditinggalkan pasar global. Dan itu kerugian besar.
Depok, 26 Oktober 2026
SAIDIMAN AHMAD
Sebangsat ini rezim sekarang. Ngabisin listrik dan air utk bikin bajer AI. Giliran pasokan gas ke singapur distop dgn narasi nasionalisme demi ketahanan energi. Biar luar jawa gak kekurangan listrik. Eh taunya dipake utk ginian.
BUSET, SAMPE PAKE AI SEGALA BUAT NGE-BUZZER. EDANNNN!!!!
KENAPA BISA ADA AKUN AI YANG DIPAKE BUAT JADI BUZZER DAN BIKIN BERITA BOHONG KAYA GINI? JAWAB WOI!!!
NGABIS-NGABISIN AIR, BIKIN BUMI MAKIN PANAS AJA. PEMERINTAH ANJINGGG!!!
@prabowo @kemkomdigi @pco_ri @bang_dasco @Gerindra
negara yang kemerdekaannya dikasih itu bikin agreement resmi antar negara utk jual beli gas, dan kebetulan akan segera habis kontrak. tau gak apa penilaian sebuah negara dianggep bernilai baik dalam EoDB maupun B-Ready penggantinya? yak. penegakan kontrak. semua pihak berkontrak harus menegakkan hak dan kewajiban dalam kontrak tanpa kecuali. gak usah sok kerad melanggar kontrak hanya demi jargon fasis nasionalis semu. dan ingat, negara yang katanya kemerdekaannya dikasih itu kesejahteraannya JAUH melampaui negara yang katanya merdeka lewat perang.
Banyak bener akun2 pro hostile takeover yg melanggar etika dan regulasi dibungkus naradi fasis nasionalisme sliweran di timeline.
Saatnya blok satu demi satu.
Oligarki ngasih benefit aja enggak, kita disuruh ngedukung atau dilabel antek asing.
Kontoru babi miniru.
PocongTerbang ๐ต๐ธ๐บ๐ฆ๐ดโโ ๏ธ๐ฎ๐ฉ retweeted
Menggeser Bayan ke sentimen nasionalisme benar2 ga masuk akal.
1. Mau dimiliki asing atau warlok tarif pajak dan tarif royalty yg dibayar ke negara tetap sama. Toh UU nya sama.
2. Seorang Oligarki bertambah kaya ga akan membuat rakyat tambah kaya juga.
3. Yg disorot adalah pemberian kredit beresiko oleh bank bumn.
4. Yg disorot juga kenapa ada dua harga pada saham yg sama, korbannya bukan hanya follower MSCI tapi WNI yg menyisakan tabungannya sedikit demi sedikit buat invest dipasar modal juga jadi korban.
5. Isu nasionalisme baru agak masuk akal jika yg mengambil alih adalah BUMN.
6. Hibah ke anak? Harta legal ya hibahnya ke anak. Terus harus hibah ke siapa? Ani ani? Kalau hasil korupsi baru ke ani2.
7. Hostile takeover membuat kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia menurun. Hari ini Perusahaan B, selanjutnya?
8. Sebenarnya kita ga peduli, perusahaan dimilki siapa, tapi rule of law nya harus jelas dan tidak ada manipulasi.
Kalian sebenarnya siapa ?
Saat Low Tuck Kwong (WNI pemilik Bayan) HIBAHKAN (gratis) 22 % saham (nilainya lbh Rp 100 trilyun) ke anaknya (WNA) kalian diam.
Saat Haji Isam (WNI) BELI saham Bayan saham milik Low Tuck Kong (tidak gratis) - kalian ribut.
Padahal hibah ke anaknya tersebut selain gratis juga terjadi perpindahan kepemilikan dari milik WNI ke WNA (pindah ke Asing).
Sementara pembelian Haji Isam selain tidak gratis, juga tetap menjadi milik WNI.
PocongTerbang ๐ต๐ธ๐บ๐ฆ๐ดโโ ๏ธ๐ฎ๐ฉ retweeted
Dokter: โAnda didiagnosis kanker paru stadium III. Harus segera menjalani pengobatan dan berhenti merokok.โ
Pasien: โSaya tidak setuju dengan standar pemeriksaan dokter. Saya akan membuat dan menentukan standar kesehatan saya sendiri.โ
Tiga tahun kemudian, pasiennya meninggal

































