Viaa Olin retweeted
Jujur ini boneka peneman kesepian aku sih disaat aku engga punya temen untuk ngobrol cuman ama dia aja bisa cerita panjang lebar heheheh
Viaa Olin retweeted
Korek Api 🔥
panasnya api ternyata tidak selalu memberikan kesan tidak baik.
pagi ini saya duduk diteras depan kamar saya, sambil menikmati segelas kopi hangat, datang teman kosn sebelah dia bertanya? "mas..boleh pinjem koreknya" (dia bicara dengan nada sopan).
saya pun menjawab langsung, "boleh". dan saya teringat, saya masih memiliki satu korek lagi dan saya ambilkan korek tersebut. tanpa ragu saya berikan korek itu ke dia.
saya tau dia kesulitan untuk menyalakan sebatang rokok ditangannya (dia hendak menyalakan rokoknya ke dapur, menggunakan api kompor), ini selain berbahaya jika kena tangan, juga termasuk boros gas jika dia melakukan hal ini berulang-ulang karena kompor gas itu juga fasilitas bersama.
apakah hal yang saya lakukan ini benar dalam hal memberikan korek, tapi apakah salah karena korek tersebut untuk menyalakan rokok (dimana rokok tidak baik untuk kesehatan).
saya hanya melakukan apa yang semestinya saya lakukan sebagai mahluk sosial, benar dan salah biar allah saja yang maha tahu dan maha segalanya. amin 🙏🤩
Viaa Olin retweeted
Creative! She created a beautiful comic book makeup look ❤
Faktanya,
Cara seseorang memperlakukan orang lain kadang berubah setelah banyak uang dan hidupnya mulai berkecukupan.
Yang dulu banyak diam, mulai berani bicara.
Yang dulu menghargai, kadang mulai meremehkan.
Ternyata, uang bukan cuma bisa mengubah hidup seseorang, tapi juga memperlihatkan sifat aslinya.
I have a lot of respect for strangers who are willing to help.
Kadang orang yang bilang begitu bukan sedang menyombongkan kekuatannya.
Dia cuma sudah terlalu lama jadi tempat sendiri untuk semua hal yang berat.
Rasa takut dan sedihnya tetap ada, cuma jarang diizinkan duduk lama. Begitu muncul, langsung diajemput dengan kalimat “ya namanya hidup”. Seolah-olah kalau dia terlalu lama diam di perasaan itu, nanti nggak ada yang bantu angkat. Jadinya dia lebih dulu angkat sendiri, sebelum sempat terasa terlalu dalam.
Yang terjadi pelan-pelan adalah hatinya jadi terbiasa sendiri, bahkan di saat dia sebenarnya mau ada yang duduk di sampingnya. Bukan karena dia nggak butuh sandaran, tapi karena sudah terlalu lama percaya bahwa sandaran itu bisa hilang kapan saja. Jadi lebih aman kalau nggak pernah terlalu bersandar.
Akhirnya yang kelihatan di luar adalah orang yang tenang dan mandiri. Yang nggak kelihatan adalah seberapa sering dia menenangkan dirinya sendiri di dalam, sampai akhirnya jadi kebiasaan yang susah dilepas.
Viaa Olin retweeted
Di sebuah sudut meja kayu yang terang, selembar kertas putih bersih terbentang rapi, siap menjadi saksi dari sebuah petualangan kecil. Di pojok kiri atas, sebuah figur mainan balok mini berbentuk Tuan Krabs tampak berdiri tegak, seolah bertindak sebagai pengawas galeri seni pribadi yang siap mengamati jalannya proses kreatif hari itu.
Hari itu, sebuah misi penting sedang dikerjakan. Di atas kertas tersebut, berbaris angka-angka dari satu hingga lima yang digambar dengan garis tepi tebal dan tegas. Angka-angka ini bukan sekadar deretan hitungan biasa, melainkan karakter-karakter ceria yang sedang menunggu untuk dihidupkan dengan sapuan warna-warni.
Angka 1 berdiri tegak dengan balutan warna merah yang berani. Di sebelah kanannya, angka 2 melengkung anggun dalam balutan warna oranye hangat, disusul oleh angka 3 yang meliuk ceria dengan warna kuning cerah bak sinar matahari. Turun ke baris berikutnya, angka 4 berdiri kokoh dengan warna hijau daun yang menyegarkan. Kini, tibalah pada langkah terakhir yang paling menentukan angka 5.
Sebuah tangan dengan lembut menggenggam spidol biru, menarikan ujungnya perlahan di atas kertas. Goresan demi goresan tinta biru ditegakkan dan dilengkungkan dengan telaten, mengisi bagian demi bagian dari kerangka angka lima yang masih kosong. Setiap gesekan spidol menciptakan suara bergesek pelan yang menenangkan, mengisi keheningan ruangan dengan ritme kreativitas yang konstan.
Tuan Krabs dari sudut atas tampak mengawasi dengan mata jeli, seakan memberikan persetujuan pada tiap goresan warna biru yang merata. Sedikit demi sedikit, warna biru itu memenuhi tubuh angka lima, menyusul saudara-saudaranya yang sudah lebih dulu selesai diwarnai merah, oranye, kuning, dan hijau.
Ketika goresan terakhir pada angka lima itu terselesaikan, lembar kertas tersebut berubah menjadi sebuah karya seni angka yang penuh warna dan harmoni. Sebuah perpaduan sederhana antara imajinasi, warna, dan ketekunan yang berhasil mengubah angka-angka hitam-putih menjadi pemandangan yang hidup dan menyenangkan.
Viaa Olin retweeted
cant beat that bone structure 🔥






































